Sabtu, 16 April 2011

Apa yang telah aku lakukan selama ini terhadapnya???

DR. Muhammad Sa’ied Ruslan
Wahai hamba-hamba Alloh, wahai ummat Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam, Al-qur’an adalah hidup kalian. Al-qur’an adalah daging kalian, Al-qur’an adalah darah kalian, Al-qur’an adalah teladan kalian, Al-qur’an adalah kehormatan kalian, Al-qur’an adalah dunia kalian, Al-qur’an adalah akhirat kalian, Al-qur’an yang agung adalah sebab kemuliaan kalian, Al-qur’an yang agung adalah sebab ketinggian derajat kalian.

Waha hamba-hamba Alloh, kalau kalian letakkan Al-qur’an yang mulia itu di belakang punggung kalian, maka kalian akan berada pada kehinaan dan nestapa, karena itu adalah talinya Alloh.
Alloh ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (ali-imran 103)

Dan tali Alloh adalah agamanya dan Al-qur’annya yang kokoh, ini adalah tafsir yang benar dalam pandangan para Ahli Tafsir.

Aib atas segala aib, kalau anda mampu berbahasa Inggris sesuai tata bahasanya, seakan anda belajar langsung kepada orang Inggrisnya dan pada orang yang ahli dengan huruf dan sastra-sastranya.

Aib bagi kalian bila kalian mampu menguasai satu, dua, atau bahasa dari bahasa-bahasa asing, sedangkan bahasa arab kalian sendiri tidak benar sama sekali (bahkan tidak bisa sama sekali). Sehingga ketika orang yang kalian ajak bicara (berbahasa arab) adalah orang yang paham, namun mereka tidak mampu mengerti penjelasan kalian. Sedangkan orang yang fasih dalam bahasa tidak dapat mendengar balaghah (seni/gaya bahasa) dari kalian.

Aib bagi kalian, aib bagi kalian, bila kalian tinggalkan sebab kemulian kalian itu, dan kalian berpegang dengan kehinaan kalian.

Aib bagi kalian, hal ini tidaklah terjadi melainkan menunjukkan kerdilnya cara berfikir kalian, dan tidaklah kecuali menunjukkan pada goncangnya pengetahuan kalian.

Aib bagi kalian, jika kitab-Nya (Al-qur’an) Tuhan yang Maha Mulia dan Maha tinggi, bersama pada kalian di rumah-rumah kalian, dan berada di tangan kalian telah tertutupi oleh debu.

Aib bagi kalian, jika kalian tidak pernah membaca kitab Alloh (Al-qur’an), kecuali saat kalian tertimpa suatu musibah (cobaan), dan kecuali bila di atas punggung kalian telah menumpuk beban masalah.

Aib bagi kalian kalau kalian tidak mau kembali kepada Alloh, melainkan bila sudah sakit, tua, dan dalam keadaan lemah, aib bagi kalian pula bila kalian tidak mengingat nikmat-nikmat yang Alloh berikan pada kalian.

Aib bagi kalian, kalau kalian jadikan Al-qur’an itu di belakang punggung kalian (diacuhkan), dan kalian tidak mau melihatnya baik pagi ataupun petang.

Aib bagi kalian bila kalian tidak dapat memahami surat yang pendek saja dalam kitab Alloh (Al-qur’an) –Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi-

Aib bagi kalian, bila lisan kalian tidak mampu dan mau membaca firman Alloh –Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi-.

Wahai hamba-hamba Alloh sepatutnya kita mendatanginya (Al-qur’an), dan sepatutnya kita menjadi orang yang mau berfikir (memahami), dan sepatutnya kita menjadi orang yang sadar, sebab jika bukan kita sendiri yang berusaha untuk kebaikan diri kita, maka tidak akan mungkin orang luar, terlebih musuh-musuh kita akan berusaha mendatangkan kebaikan bagi kita. Kalau bukan kita sendiri yang menjaga kehormatan kita, kita tidak akan mungkin mengharapkan dari orang luar, apalagi musuh-musuh kita yang akan menjaga kehormatan kita. Kalau bukanlah kita yang membela agama kita sendiri, tentu Alloh –Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi- enggan menurunkan pertolongannya dari atas langit, kecuali bila Dia telah memberikan ujian kepada kita baik secara dzahir (fisik) maupun batin. Dan bila kalian berpaling (dari agama), maka Alloh akan mengganti dengan kaum selain kalian, kemudian mereka tidaklah sama seperti keadaan kalian.

Sampai kapan kalian akan terhina? Sampai kapan kalian hanya duduk saja? Samapai kapan kalian cuma tidur? Sampai kapan kalian hanya diam saja, wahai hamba-hamba Alloh?

Al-qur’an yang mulia, mengetuk pintu hati kalian sejak pagi dan petang hari, namun tidak ada yang menjawabnya, dan Nabi kalian sholallohu ‘alaihi wasallam telah mengaudukannya kepada Tuhannya (Alloh) dan berkata :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

"Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang diabaikan" (al-furqan : 30)

Maka pahamilah kitab Alloh, dan jangan kalian lewatkan seharipun kecuali kalian menengok pada Al-qur’an yang agung,

(Diketik ulang dari video nasihat syaikh DR. Muhammad Sa’ied Ruslan -semoga Alloh menjaganya- dari Marjan Production)

Kesamaan Aqidah Imam Empat

Mereka juga mengingkari para ahli kalam, seperti kelompok Jahmiyyah dan lain-lain yang terpengaruh dengan filsafat Yunani dan aliran-aliran kalam. Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyyah menuturkan, "... Namun rahmat Allah kepada hamba-Nya menghendaki, bahwa para imam yang menjadi panutan umat, seperti imam madzhab empat dan lain-lain, mereka mengingkari para ahli kalam seperti kelompok Jahmiyyah dalam masalah al-Qur'an,  dan tentang beriman kepada sifat-sifat Allah.

Mereka sepakat seperti keyakinan para ulama salaf, di mana antara lain, bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat, al-Qur'an adalah kalam Allah bukan makhluk, dan bahwa iman itu memerlukan pembenaran dalam hati dan lisan[1]

Imam Ibnu Taimiyyah juga menyatakan, para imam yang masyhur itu juga menetapkan tentang adanya sifat-sifat Allah. Mereka mengatakan bahwa al-Qur'an adalah kalam Allah bukan makhluk. Dan bahwa Allah itu dapat dilihat di akhirat. Inilah madzhab para Sahabat dan Tabi'in, baik yang termasuk Ahlul Bait dan yang lain. Dan ini juga madzhab para imam yang banyak penganutnya, seperti Imam  Malik bin Anas, Imam ats-Tsauri, Imam al-Laits bin Sa'ad, Imam al-Auza'i, Imam Abu Hanifah, Imam  Syafi'i, dan Ahmad [2]

Imam Ibnu Taimiyyah pernah ditanya tentang aqidah Imam  Syafi'i. Jawab beliau, "Aqidah Imam  Syafi'i dan aqidah para ulama salaf seperti Imam Malik, Imam ats-Tsauri, Imam al-Auza'i, Imam Ibnu al-Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Ishaq bin Rahawaih adalah seperti aqidah para imam panutan umat yang lain, seperti Imam al-Fudhal bin 'Iyadh, Imam Abu Sulaiman ad-Darani, Sahl bin Abdullah at-Tusturi, dan lain-lain. Mereka tidak berbeda penddapat dalam Ushuluddin (masalah aqidah). Begitu pula Imam Abu Hanifah, aqidah tetap beliau dalam masalah tauhid, qadar dan sebagainya adalah sama dengan aqidah para imam tersebut di atas. Dan aqidah para imam itu adalah sama dengan aqidah para sahabat dan tabi'in, yaitu sesuai dengan apa yang dituturkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah[3]

Aqidah inilah yang dipilih oleh al-Allamah Shidq Hasan Khan, dimana beliau berkata : " Madzhab kami adalaha mazhab ulama salaf, yaitu menetapkan adanya sifat-sifat Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan sifat makhluk dan menjadikan Allah dari sifat-sifat kekurangan, tanpa ta'thil (meniadakannya makna dari ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah). Mazdhab tersebut adalah madzhab imam-imam dalam Islam, seperti Imam Malik bin Anas, Imam Syafi'i, Imam Ats-Tsauri, Imam Ibnu Al Mubarak, Imam Ahmad dan, lain-lain. Mereka tidak berbeda pendapat mengenai ushuludin. Begitu pula Imam Abu Hanifah, beliau sama aqidahnya dengan para imam diatas, yaitu aqidah yang sesuai dengan apa yang dituturkan oleh al-Qur'an dan as-Sunnah."[4]

Oleh Dr. Muhammad Abdurrahman Al-Khumais
[Disalin dari kitab I'tiqad Al-A'immah Al-Arba'ah edisi Indonesia Aqidah Imam Empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad) oleh Dr. Muhammad Abdurarahman Al-Khumais, Penerbit Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Di Jakarta]
_________
Foote Note
[1]. Kitab al-Imam, hal. 350-351, Dar ath-Thiba'ah al-Muhammadiyyah, Ta'liq Muhammad
[2]. Manhaj As-Sunah, II/106
[3]. Majmu'al-Fatawa, V/256
[4]. Qathf ats-Tsamar, hal. 47-48

SEBAB-SEBAB BID’AH

Oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Bukan hal yang samar bagi setiap orang, bahwa setiap kejadian memiliki sebab, yang dengannya dapat diketahui benar atau salahnya. Adapun sebab terjadinya bid’ah dengan berbagai ragam bentuknya adalah kembali kepada tiga hal. [1]

Pertama : Kebodohan Tentang Sumber Hukum Dan Cara Pemahamannya

Sumber hukum syar’i adalah Al-Qur’an dan Hadits dan apa yang diikutkan dengan keduanya berupa Ijma dan Qiyas. Tetapi qiyas tidak dapat dijadikan rujukan dalam hukum ibadah. Sebab di antara rukun dalam qiyas adalah bila ada kesamaan alasan hukum dalam dalil pokok dengan hukum cabang yang diqiyaskan, padahal ibadah semata-mata didirikan berdasarkan peribadatan murni.

Sesungguhnya bentuk kesalahan yang menyebabkan munculnya bid’ah adalah karena kebodohan tentang Sunnah, posisi qiyas dan tingkatannya, juga tentang gaya bahasa Arab.
Kebodohan terhadap hadits mencakup kebodohan tentang hadits-hadits shahih dan kebodohan menggunakan hadits-hadits dalam penentuan hukum Islam. Dimana yang pertama berimplikasi kepada hilangnya hukum, padahal dasar hukumnya adalah hadits shahih, sedang yang kedua berdampak pada tidak dipakainya hadits-hadits shahih dan tidak berpedoman kepadanya, bahkan digantikan posisinya dengan argumen-argumen yang tidak dibenarkan dalam syari’at.
Sedangkan kebodohan terhadap qiyas dalam penentuan hukum Islam adalah yang menjadikan ulama fikih generasi khalaf yang menetapkan qiyas dalam masalah-masalah ibadah dan menetapkannya dalam agama terhadap apa yang tidak terdapat dalam hadits dan amal, padahal banyaknya kebutuhan untuk mengamalkannya dan tidak ada yang menghalanginya.

Adapun kebodohan tentang gaya bahasa Arab adalah yang menyebabkan dipahaminya dalil-dalil bukan pada arahnya. Demikian itu menjadi sebab adanya hal baru yang tidak dikenal generasi awal.

Sebagai contoh adalah pendapat sebagian manusia tentang hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Jika kamu mendengar orang adzan maka katakanlah seperti apa yang dikatakannya kemudian bershalawatlah kepadaku” [Hadits Riwayat Muslim]

Mereka menganggap hadits tersebut sebagai perintah kepada orang yang adzan untuk membaca shalawat setelah selesai adzan, dan beliau memintanya untuk mengeraskan suaranya, sehingga hadits ini dijadikan dalil disyariatkannya bershalawat dengan suara yang keras. Mereka mengarahkan arti perintah bershalawat kepada orang yang adzan dengan alasan bahwa pembicaraan hadits untuk umum kepada semua kaum muslimin, sedangkan orang yang adzan masuk di dalamnya. Atau bahwa ungkapan “ Jika kamu mendengar” mencakup kepada orang yang adzan karena dia juga mendengar adzannya sendiri!

Kedua penakwilan tersebut adalah disebabkan kebodohan tentang gaya bahasa. Sebab permulaan hadits tidak mencakup perintah kepada orang yang adzan, dan akhir hadits datang sesuai dengan awalnya, sehingga tidak mencakup juga kepada orang yang adzan.

Sesungguhnya ulama qurun awal berijma (bersepakat) bahwa mengetahui karakteristik bahasa Arab untuk pemahaman Al-Qur’an dan Hadits adalah sebagai syarat dasar dalam kebolehan untuk berijtihad dan menyimpulkan dalil-dalil syar’i.

Adapun kebodohan tentang tingkatan qiyas dalam sumber hukum Islam, yaitu qiyas boleh dipakai apabila tidak ada hadits dalam masalah tersebut, kebodohan akan hal ini mengakibatkan suatu kaum melakukan qiyas padahal terdapat hadits yang kuat, namun mereka tidak mau kembali kepadanya sehingga mereka terjerumus ke dalam bid’ah.

Bagi orang yang mencermati berbagai pendapat ulama fiqih niscaya dia mendapatkan banyak contoh tentang hal ini. Dan yang paling dekat adalah apa yang dikatakan sebagian orang dalam mengqiyaskan orang yang adzan dengan orang yang mendengarnya dalam perintah membaca shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah adzan. Padahal pendapat hadits yang sangat jelas mengenai hukum tersebut sebagaimana telah disebutkan, sedangkan hadits harus di dahulukan atas qiyas. Sebab redaksai, “Jika kamu mendengar adzan … (sampai akhir hadits)” menunjukkan kekhususan perintah membaca shalawat setelah adzan hanya kepada orang yang mendengar adzan.

Kedua : Mengikuti Hawa Nafsu Dalam Menetapkan Hukum

Orang yang terkontaminasi hawa nafsunya bila memperhatikan dalil-dalil sayr’i, dia akan terdorong untuk menetapkan hukum sesuai dengan selera nafsunya kemudian berupaya mencari dalil yang dijadikan pedoman dan hujjah.

Artinya, dia menjadikan hawa nafsu sebagai pedoman penyimpulan dalil dan penetapan hukum. Demikian itu berarti pemutarbalikan posisi hukum dan merusak tujuan syari’at dalam menetapkan dalil.

Mengikuti hawa nafsu adalah akar dasar penyelewengan dari jalan Allah dan lurus. FirmanNya.

“Artinya : Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah seikitpun?” [Al-Qashash : 50]

Fakta membutktikan bahwa akibat mengikuti hawa nafsu menjadikan berbagai peraturan dalam agama menjadi pudar dan setiap kebaikan menjadi terhapuskan.

Bid’ah karena mengikuti hawa nafsu adalah bentuk bid’ah yang paling besar dosanya di sisi Allah dan paling besar pelanggarannya terhadap kebaikan. Sebab betapa banyak hawa nafsu yang telah merubah syari’at, mengganti agama dan menjatuhkan manusia ke dalam kesesatan yang nyata.

Ketiga : Menjadikan Akal Sebagai Tolak Ukur Hukum Syar’i.

Sesungguhnya Allah menjadikan akal terbatas penalarannya dan tidak menjadikannya sebagai pedoman untuk mengetahui segala sesuatu. Sebab ada beberapa hal yang sama sekali tidak terjangkau oleh akal dan ada pula yang terjangkau hanya sebatas lahirnya saja dan bukan substansinya. Dan karena keterbatasan akal, maka hampir tidak ada kesepahaman tentang hakikat yang diketahuinya. Sebab kekuatan dan cara pemahaman orang berbeda-beda menurut para peniliti.

Maka, dalam sesuatu yang tidak dapat dijangkau akal dan penalaran, menusia harus merujuk kepada pembawa berita yang jujur yang dijamin kebenarannya karena mu’jizat yang dibawanya. Dia adalah seorang rasul yang dikuatkan dengan mu’jizat dari sisi Allah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang Maha cermat dengan apa yang Dia ciptakan.

Atas dasar ini Allah mengutus para rasulNya untuk mejelaskan kepada manusia apa yang diridhai Pencipta mereka, menjamin kebahagiaan mereka, dan menjadikan mereka memperoleh keberuntungan dalam kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat.

Sesungguhnya sebab-sebab terjadinya bid’ah yang kami sebutkan diatas telah tercakup semua sisinya dan terpadunya pokok-pokoknya dalam hadits.

“Artinya : Akan mengemban ilmu ini dari setiap generasi, orang-orang yang adil di antara mereka yang akan menafikan orang-orang yang ekstrim, dan ajaran orang-orang yang melakukan kebatilan serta penakwilan orang-orang yang bodoh” [2]

Ungkapan “ perubahan orang-orang yang ekstrim” mengisyaratkan kepada sikap fanatik dan belebihan. Sedang ungkapan “ajaran orang-orang yang melakukan kebatilan “ mengisyaratkan kepada yang menganggap baik mendahulukan akal dan mengikuti hawa nafsu dalam menetapkan hukum syar’i. Lalu ungkapan “penakwilan orang-orang yang bodoh” mengisyaratkan kepada kebodohan dalam sumber-sumber hukum dan cara pemahamannya dari sumber-sumbernya.

[Disalin dari kitab Ilmu Ushul Al-Fiqh Al-Bida’ Dirasah Taklimiyah Muhimmah Fi Ilmi Ushul Fiqh, edisi Indonesia Membedah Akar Bid’ah,Penulis Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, Penerjemah Asmuni Solihan Zamakhsyari, Penerbit Pustaka Al-Kautsar]

__________

Foote Note
[1]. Lihat Kitab Al-Bid’ah, karya Syaikh Mahmud Syaltut : 17-36
[2] .Hadits hasan Lihat Isryad As-Sari I/4 oleh Al-Qasthallani dan Al-Hiththah oleh Shiddiq Hasan Khan : 70

Misteri Pembunuhan Enam Ahli Nuklir Muslim

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgH7QlkSDdUOOtQLnP8E7tgHZivJW8PJaW7_8fiLZgd4hwv6oSmnaf-tvHW8h7yH2tcozrZUffiqCwLcog4GoQuXu4YDy222Akg5W6L1J3FmrF0u4yaBbAvMH6QUb4zb4ov3edUqMQxK8s/s320/wanita-misterius.jpg

Dr.Sameera Moussa. Alamogordo, Amerika Serikat, selasa 16 Juli 1945. Waktu menunjuk tepat jam 0.530. Dipagi hari yang indah itu sebuah sejarah diukir di pangkalan udara Alamogordo.Percobaan pelerdakan bom nuklir, dibawah pinpinan J.Robert Oppenheimer, berhasil dengan gemilang. Sorak sorai pun bergemuruh “menyambut” hasil penelitian yang diulakukan di sebuah laboratorium di Los Alamos tersebut.Namun kurang dari sembilan bulan kemudian, tepatnya pad atanggal 6 dn 7 Agustus 1945, hasil perecobaan itu telah merenggut korban pertamanya.Ratusan ribu anak manusia mati dan luka,dan dua kota di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki menjadi rata dengan tanah.

Ternyata “korban” dari Manhattan Project tidak berhenti disini. Dalam rentang waktu empat dasawarsa , dari 1952 sampai 1989, enam doktor Muslim ahli nuklir dibunuh secara misterius. Inilah kisah kematian Dr.SAmirah musa, Dr.Samir Naguib, Dr.Nabil al-Qalini, Dr. Yahya el-Meshad,Dr.Ahmad Nabil dan Dr.Said Sayyid Badir yang penuh misteri.
Sameera Moussa dilahirkan di Gharbia Governorat. Mesir pada tahun 1917. Ibunya meninggal akibat penyakit kanker. Sepeninggal ibunya, ayahnya memutuskan membawa putrinya Sameera pindah ke Kairo. Di kota ini, ayahnya membuka usaha penginapan berupa hotel kecil di wilayah El-Hussein . Atas desakan ayahnya, Sameera menempuh pendidikan sekolah dasar Kaser El-Shok salah satu sekolah tertua di Kairo. Setelah dia menyelesaikan pendidikan dasar ia bergabung dengan Banat El-Ashraf, sebuah sekolah yang dibangun dan dikelola oleh Nabawya Moussa, aktivis politik yang terkenal.

Pada tahun 1939, Sameera Moussa memperoleh gelar B.Sc. bidang radiologi dengan derajat First Class Honours setelah meneliti efek radiasi X-ray pada berbagai material .Karena kepandaiannya, Dr Moustafa Mousharafa, dekan fakultas mengangkatnya menjadi Asisten Profesor.Ia merupakan muslimah pertama yang menduduki posisi tersebut di universitas Kairo dan menjadi muslimah yang pertama pula yang menyabet gelar Ph.D. dalam bidang radiasi atom.

Sameera Moussa menerima beasiswa dari Fullbright Atomic Program untuk berkenalan dengan fasilitas penelitian nuklir modern di Universitas California.Ia diberi izin untuk mengunjungi fasilitas atom rahasia AS. Kunjungan ke faslitas nuklir tersebut menyulut perdebatan keras di kalangan akademik Amerika Serikat .Sameera adalah orang “asing” pertama yang memiliki akses ke fasilitas rahasia tersebut.
Dia menolak beberapa tawaran untuk tinggal di Amerika Serikat dan akan diberikan Amerika kewarganegaraan. Ia mengatakan “Mesir, tanah air sayangku, sedang menunggu saya “.

San Fransisco ,California ,Jum’at 16 Agustus 1952.Pagi itu Dr. Sameera Mousa, wanita ahli nuklir jebolan Universitas Kairo Mesir yang sedang melakukan riset di Pusat Reaktor Nuklir San Fransisco menerima undangan yang diantar oleh seorang kurir.Tanpa perasaan curiga sedikitpun, muslimah pertama yang ahli di bidang fisika nuklir ini berangkat ke kantornya naik mobil yang dikendarai si kurir tersebut.Ketika mobil yang dinaiki doctor ini melewati jalan yang menanjak dan ketika meluncur turun, sikurir tiba-tiba membuka pintu mobil dan meloncat keluar.Sementara mobil yang dikendarai Dr. Sameera Moussa meluncur kencang tidak terkendali dan menabrak sebuah trailer yang tiba-tiba muncul di depan.Tanpa ampun mobil Dr.Sameera Moussa melesat kedalam jurang sedalam 54 meter dan doktor nuklir pertama muslimah itu tewas seketika.

Spekulasi berkembang, pembunuhan Dr.Sameera Moussa diskenario dinas inteljen Israel .Operasi inteljen khas mossad meghabisi ilmuwan-ilmuwan muslin yang dianggap membahayakan Israel.

Dr.Sameer Naguib (Diburu Trailer)

Kematian Dr. Samirah Musa yang diwarnai misteri membuat pemerintah Mesir berhati-hati mengiirm putera-putera terbaiknya belajar ke Amerika Serikat. Pada Wktu itu belum banyak anak-anak muda berbakat yang menggeluti bidang yang berkaitan dengan fisika nuklir.Pada awal tahun enam puluhan Universitas Kairo kembali mengajukan putera terbaiknya, Dr.Sameer Nagubi ,untuk melanjutkan studi mengenai nuklir di Amerika Serikat.

Sameer Naguib menyabet gelar doktor d bidang yang digelutinya dan menunjukkan kemampuan ilmiah yang menonjol .Bukan luar biasa ketika Universitas Detroit membutuhkan associate professor di bidang fisika, dialah yang terpilih di antara dua ratus pelamar dari berbagai bangsa. Segera pula penelitian yang ia lakukan mengundang perhatian banyak pihak.Ia lalu mendapat banyak tawaran ,dengan imbalan materi yang tinggi untuk mengembangkan hasil-hasil penelitian.

Berbagai tawaran menarik tidak membuat Dr. Sameer Naguib tergiur.Sebulan setelah Mesir kalah da;am Perang Juni 1967,ia memesan tiket pesawat menuju Kairo pada tanggal 13 Agustus 1967.Merasakan getirnya kekalahan yang diderita negerinya dan bangsanya dalam prang tersebut,ia merasa terpanggil untuk segera pulang ke Mesir.Begitu ia menyatakan maksudnya untuk”pulang kampung”,berbagai pihak di Amerika serikat dan beberapa negara barat “merayu” Dr.Sameer Naguib untuk tidak pulang.Namun ia telah mengambil sikap bulat,ia akan tetap “pulang kampung”untuk mendarmabaktikan diri pada negeri dan bangsanya.

Sabtu 13 Agustus 1967,Dr. Sameer Naguib bersiap-siap menuju andara Detroit.

Segera setelah semuanya beres, iapun mengemudikan mobilnya menuju bandara dengan perasaan gembira. Tidak lama lagi ia akan bertemu kembali dengan tanah kelahiaran dan keluarganya yang lama ia tinggalkan.Ketika mobil Dr.Sameer Naguib memasuki high-way ,tiba-tiba sebuah trailer memburu mobil yang sedang dikendarainya. Semula Dr.Sameer mengira trailer tersebut tidak mengejarnya. Namun trailer itu semakin kencang jalannya, Dr.Sameer pun menggerakkan mobilnya ke pinggir. Triler itu tetap memburunya dan mempercepat jalannya. Dr.Sameer Naguib berusaha keras menghindar.Tetapi ia terlambat. Tidak lama kemudian trailer itu benar-benar menabrak dan mencabik-cabik mobil doktor muda tersebut beserta isianya Dr.Sameer naguib pun tewas seketika.Kembali dunia Islam kehilangan seoarang ahli nuklirnya dan Universitas Kairo sekali lagi mengibarkan bendera hitam setengah tiang.

sumber :http://haxims.blogspot.com/2011/04/misteri-pembunuhan-enam-ahli-nuklir.html

Nah...Ikut Gaya Cina atau Baratkah Model Pengasuhan Anda?

REPUBLIKA.CO.ID, Anda pernah membaca buku Battle Hymn of the Tiger Mother? Karya Amy Chua ini merupakan best seller tengah yang menjadi perbincangan warga dunia. Dalam memoarnya, ibu dari Sophia (18 tahun) dan Louisa (14 tahun) itu menceritakan kesuksesan serta kesalahan yang dibuatnya dalam mengasuh anak dengan gaya tradisional Cina.
Orang tua Cina memang terkenal otoriter. Kedisiplinan dan kerja keras demi menggapai sukses mereka pertahankan di manapun berada. “Ini menjadi nilai yang diakui bersama oleh warga Cina,” jelas sosiolog Erna Karim.
Di satu sisi, Amy mendapat acungan jempol atas hasil pengasuhannya. Di usia 14 tahun, jemari si sulung, Sophia, lincah menari-nari di atas tuts piano di Carnegie Hall. Sedangkan, adiknya, Louisa memainkan biola tanpa sedikitpun nada sumbang. Seolah memenuhi tuntutan sang bunda, keduanya juga tampil sebagai jagoan akademik.
Kenyataan itu membuat banyak orang—terutama di Amerika—terusik. Standar kesuksesan anak Amy seolah menjadikan mereka sebagai orang tua yang gagal. Di samping itu, mereka menganggap profesor hukum dari Yale University kejam terhadap anak. Sebab, ibu yang menikah dengan pria Yahudi itu mengekang kedua putrinya dari kehidupan sosial. Mereka tak memiliki pengalaman menginap di rumah teman, pergi pesta, atau ikut pementasan drama.
Amy menuntut Sophia dan Louisa meraih nilai sempurna di semua mata pelajaran, kecuali olah raga dan drama. Masing-masing juga harus rutin berlatih alat musik yang dipilihkan sang bunda. Sebegitu kerasnya terhadap anak, Amy bahkan tidak mengizinkan Louisa istirahat sejenak untuk sekadar ke kamar kecil sampai gesekan biolanya merdu memainkan lagu Little White Donkey.
 Erna mengatakan orang Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. “Anak-anak Cina juga terbiasa tidak tergantung pada orang lain dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri.”
Anak-anak Cina juga sejak kecil telah diperkenalkan pada falsafah hidup. Mereka akan berusaha untuk tidak mempermalukan keluarga. “Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar,” komentar psikolog A Kasandra Putranto.
Sementara itu, gaya pengasuhan ala Amerika juga ada plus-minusnya. Orang Amerika lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. “Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya,” cetus Kasandra yang menjabat sebagai wakil ketua Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jakarta.
Bagaimana dengan Indonesia? Kasandra menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara dua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika. “Lantaran tiap pola asuh memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, kita tidak bisa mengatakan mana yang terbaik.”
Sementara itu, Erna memperhatikan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. “Lantas, pola pengasuhan di desa juga berbeda dengan di perkotaan.”
Masyarakat desa, lanjut Erna, lebih permisif. Orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. “Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.”
Lalu, di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. “Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan,” papar Erna.
Itu sebabnya, orang tua perkotaan sibuk memasukkan anaknya ke berbagai kursus. Terutama, komputer dan bahasa Inggris. “Lalu, kebutuhan otak kanan yang mencakup bidang kesenian juga diakomodasi,” jelas Erna.

Untuk mengantarkan anaknya pada keberhasilan, Amy menentukan kegiatan anaknya. Ia berpendapat hingga berusia pra remaja, anak belum dapat secara objektif menilai. Otomatis, mereka harus mengikuti pilihan orang tua.
Terlepas dari kesuksesannya dalam membesarkan anak, Amy mengaku membuat sejumlah kesalahan sepanjang perjalanan. Ia gampang naik darah, kasar dalam perkataan, dan kurang memberikan keleluasaan memilih pada putrinya. Ia juga tak segan memberi hukuman.
Amy memang mengkritik pola asuh Barat yang cenderung lunak pada anak. Ketika anak kehilangan semangat belajar biola, orang tua Barat dengan cepat menawarkan alternatif alat musik lain yang lebih mudah dikuasai. Sebaliknya, Amy justru memberi dukungan agar putrinya makin giat berlatih supaya mahir.
Tidak semua anak Cina sukses diasuh dengan gaya otoriter. Beberapa anak klien keturunan Cina di biro Psychological Practice pimpinan Kasandra tertekan dengan pola asuh seperti itu. “Mereka memilih kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kerasnya didikan orangtua.”
Akankah pencapaian Amy dijadikan barometer oleh sejumlah orang tua? Sosiolog Erna Karim mengatakan pengekor Amy adalah mereka yang tidak mampu mengonstruksi sendiri cara mendisiplinkan anak. “Orang yang terus mengikuti perkembangan zaman namun tak tahu cara pengasuhan lebih terpengaruh dengan buku-buku seperti Tiger Mom ini,” ungkap Erna.

Tantangan Masa Kini
Anak-anak Indonesia masa kini tumbuh dalam fasilitas yang nyaris serba ada. Dengan dukungan ekonomi keluarga yang lebih mapan, mereka mudah mengeksplorasi segala hal. “Dibandingkan dengan lima tahun lalu pun kondisinya sudah berbeda sekali,” ungkap guru Bimbingan Konseling SMP Labschool Kebayoran, Sinthya Bintarti.
Sementara itu, diperkenalkan oleh tayangan TV dan orang dewasa di lingkungan sekitarnya, anak-anak juga mengenal percintaan di usia yang sangat dini. Anak TK bahkan sudah dapat menyatakan kesukaannya pada lawan jenis. “Tentunya dengan presepsi sesuai usianya,” ujar Sinthya.
Dukungan fasilitas serta kondisi lingkungan seperti itu mendatangkan masalah tersendiri bagi anak. Kedekatan mereka dengan gadget dan akses internet membuat mereka teramat tergantung dengan teknologi. “Belum saatnya mereka terlalu mengandalkan gadget,” cetus Sinthya.
Pada usia sekolah, lanjut Sinthya, semestinya anak mencari informasi dari buku bacaan. Mereka harusnya membaca langsung dari sumber primer. Sedangkan, Wikipedia sebetulnya berisi keterangan dari sumber sekunder. ”Kebiasaan mengakses Wiki menurunkan minat baca mereka terhadap buku teks.”
Lantas, anak-anak sekarang juga berani memasuki dunia pergaulan di dunia maya. Padahal, mereka belum sepenuhnya bisa memilah. “Ada bahaya yang mungkin timbul dari pertemanan dengan orang asing di social media,” kata Sinthya.
Selain itu, anak juga terlampau sering terpapar dengan tontonan tidak sehat, seperti sinetron. Tayangan tersebut membuat mereka mudah berkata kasar. “Mereka menganggap berkata kasar merupakan bagian yang biasa dalam pergaulan,” ucap Sinthya.
Di lain sisi, ada komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak. Sering kali, ekspektasi anak terhadap orang tuanya gagal tersampaikan secara utuh. “Anak belum selesai mengutarakan harapannya, ayah ibunya sudah keburu memotong,” kata Sinthya.
Ketika nilai ulangan jelek, misalnya, orang tua tidak mendengar sampai tuntas penyebab versi anak. Padahal, anak membutuhkan dukungan ayah bundanya. “Cobalah untuk menurunkan diri sedikit agar bisa merasakan masalah yang dialami anak,” saran Sinthya.
(Reiny Dwinanda, wartawan Republika)
Bahan renungan

Kamis, 14 April 2011

Belajar Bahasa Arab dari Al-Quran (1)

Topik 1: Dzalika Al-Kitabu
Insya Allah saya akan memulai menulis belajar bahasa Arab dari Al-Quran. Dimulai dari Surat Al-Baqaroh. Tiap posting diusahakan tidak terlalu panjang, agar bisa dicerna dan dipahamkan.
Sebagai pembuka, mari mulai dengan surat Al-Baqaroh ayat 1 dan 2.
Alif – lam – mim : Hanya Allah yang tahu artinya.
dzalika alkitabu : itu (sebuah) kitab
Pembagian Jenis Kata dalam bahasa Arab:
1. Isim (kata benda)
2. Fi’il (kata kerja)
3. Harf (kata tugas)

Bandingkan dengan bahasa Indonesia atau Inggris, pembagian kata cukup banyak, ada kata sifat (adjective), kata benda (noun), kata tunjuk, kata ganti, kata kerja (verb), dsb.
Kok bahasa Arab pembagian kata sedikit sekali: hanya 3?
Ini pertanyaan awal yang sering muncul pada saat orang baru belajar bahasa Arab.
Sebenarnya tidak. Kata dalam bahasa Arab juga banyak jenisnya. Ambil contoh kata dzalika = itu. Dalam bahasa arab kata ini termasuk kata benda (isim).
Lho kok gitu? Bukannya dalam bahasa Indonesia kata “itu” adalah kata ganti tunjuk, bukan kata benda? Kok dalam bahasa arab kata dzalika = itu, termasuk kata benda?
Bukannya dalam bahasa indonesia kata benda itu, misalkan: rumah, mobil, dsb.
Ya, betul. Dalam bahasa Arab, rumah, mobil dsb itu, juga termasuk kata benda, yang disebut kata benda alam (isim alam), karena benda-benda itu wujud ada di alam. Lalu kata dzalika = itu, disebut kata benda tunjuk (isim isyaroh).
Ooo… begitu… Jadi sebenarnya walaupun dalam bahasa Arab kata hanya dibagi 3 jenis (isim, fi’il, dan harf), tapi isim sendiri terbagi-bagi lagi. Ada isim alam, ada isim isyaroh, ada isim maushul dsb. Insya Allah kita akan bahas satu-satu nanti.
Ooo… kalau memang dzalika = itu, yang dalam bahasa Indonesia disebut kata ganti tunjuk, dalam bahasa arab dia termasuk isim isyaroh. Kalau begitu mengapa pengelompokannya dibagi menjadi 3 bagian? Kenapa gak dikelompokkan misalkan 8 bagian atau sama dengan pengelompokan bahasa Ingris?
Nah disini menariknya bahasa Arab. Ternyata pengelompokan jenis kata menjadi 3 saja itu tujuannya adalah bahwa: hukum-hukum yang berlaku bagi 3 jenis kata tersebut dalam satu kelompok sama. Contoh, setiap isim, tidak terpengaruh waktu. Misalkan kata buku waktu kemaren disebut ??????(al-kitaabu), sedangkan waktu besok disebut al-kitaabu.
Bentar-bentar… gak ada bedanya dong sama bahasa Inggris atau bahasa Indonesia… Book dalam kalimat Past Tense, tetap Book dalam kalimat future tense. Ok, Anda benar… Maksud saya hanyalah mengatakan bahwa hukum-hukum isim itu dalam satu kelompok tersendiri. Biar tambah jelas. Kata dzalika (itu), dalam bahasa arab termasuk isim (kata benda), maka kata dzalika itu juga tunduk kepada hukum-hukum isim (misalkan tidak terikat waktu).
Ah… itu sih gampang. Bahasa Indonesia juga begitu kan?
Ok… ok, bangaimana kalau saya katakan selain tidak terikat waktu dalam bahasa Arab hukum isim berubah sesuai dengan jenis kelamin subject? Misal saya sebutkan: Itu buku =
Kalau saya suruh Anda membuat kalimat: Itu pohon. Pohon bahasa Arabnya adalah syajaratun . Apakah anda akan bilang spt ini:
dzalika sajaratun = itu(sebuah) pohon.
JAWABAN ANDA SALAH. Kenapa?
Karena dzalika adalah isim yang terikat dengan hukum-hukum isim, yang salah satunya mengatakan bahwa isim berubah mengikuti jenis kelamin subjectnya. Nah kata kitaab (buku) berjenis kelamin laki-laki, maka kita pakai isim isyaroh (kata tunjuk) berjenis laki-laki juga yaitu dzalika. Lalu kata dzalika ini menjadi tilka, untuk subject yang berjenis perempuan. Kata pohon berjenis perempuan, maka yang betul kalimatnya menjadi
tilka syajaratun = itu(sebuah) pohon.
Nah, kira-kira anda kebayang kan…, bedanya dengan bahasa Indonesia?
Ringkasnya:
Dalam bahasa Indonesia, kata benda tidak terikat dengan jenis kelamin dari subject yang dibicarakan. Dalam bahasa Arab, tidak demikian. Contohnya kata “itu” dalam bahasa arab termasuk kata benda, maka dia terikat dengan hukum kata benda yang salah satunya menyatakan: kata itu berubah bentuk sesuai dengan jenis kelamin subject yang dibicarakan. Jadi kata “itu” bisa berupa dzalika (untuk subject laki-laki) atau tilka (untuk subject) perempuan.
 Written by Rafdian Rasyid Copy @ islamdotnet.com

Rabu, 13 April 2011

Mengapa Rasul Mendengar Terompah Bilal di Surga?

Hamba yang paling dekat kepada Allah Yang Maha Esa, adalah orang yang paling dekat kepada ketaatan dan paling jauh dari kemaksiatan.
Suatu ketika, segolongan shahabat berdiri di depan pintu Amirul Mukminin Umar Ibn Khattab ra, meminta izin untuk masuk pada hari pertemuan saat muktamar diadakan setiap tahunnya oleh Amirul Mukminin. Mereka hendak masuk menemuinya.
Siapakah golongan shahabat itu? Apa kriteria shahabat yang diizinkan masuk oleh Amirul Mukminin? Dan apa sajakah keahlian mereka yang menyebabkan mereka dapat masuk menemui Amirul Mukminin Umar Ibn Khattab?
Mereka yang sudah berada di depan pintu itu, Abu Sufyan Ibn Harb, mantan panglima perang Qurays, yang sudah masuk Islam, dan pernah memerangi Rasul shallallahu alaihi wa sallam, dan kemudian mendapatkan hidayah. Ada Al-Absyamiy dari kalangan Bani Abdu Syams dari kalangan keluarga Arab yang paling tinggi nasabnya.Lalu, Suhail ibn Amr, juru bicara Arab, dan yang lainnya ada pula Al-Haritz ibn Hisyam. Mereka berdiri. Sedangkan disamping mereka ada Bilal ibn Rabbah, mantan budak belian berasal dari Abesinia, Shuhaib Ar-Rumiy dari bangsa Romawi, Salman al-Farisi dari negeri persia, dan Abdullah bin Mas'ud, mantan penggembala ternak, yang menjadi shahabat yang mulia dengan ilmunya.
Mereka mengerumuni pintu khalifah seraya meminta izin kepada Umar ra untuk masuk menemuinya. Orang yang diperbolehkan masuk adalah orang yang paling dekat kepada Allah. Kemudian sepuluh shahabat yang mendapatkan berita gembira dijamin masuk surga, lalu masuklah ahli Badr sesuai dengan kedudukan mereka, kemudian barulah orang lainnya yang dipilih.
Kemudian pengawal pribadi Umar bertanya: "Siapakah yang ada di depan pintu?", ucapnya. Abu Sufyan menjawab, "Sampaikanlah kepada Amirul Mukminin bahwa aku ada disini", cetusnya.
Selanjutnya pengawal itu bertanya,"Dan siapakah kalian?". Mereka pun menyebutkan namanya masing-masing, dan kemudian pengawal kembali kepada Khalifah Umar ibn Khattab dan memberitahukan hal itu kepadanya.
Umar berkata, "Berilah izin kepada Bilal ibn Rabbah untuk masuk!", ujar Umar. Dan, Billal pun mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan pertemuan yang sudah disiapkan itu. "Suruh Shuhaib masuk", ucap Umar. Tak lama Umar berkata, "Suruh Salman masuk". Setelah itu, Umar berkata, "Ibnu Mas'ud masuk!".
Sesudah shahabat masuk semuanya, Abu Sufyan yang hidungnya terlihat mengembang, karena marah dan merasa mendongkol yang sangat, berkata, "Demi Allah yag tiada tuhan berhak disembah selain Dia, aku tidak mengira bila Umar membuatku lama menanti sesudah mereka masuk terlebih dahulu sebelumku".
Mengapa hal itu terjadi? Sesungguhnya Abu Sufyan menimbang segala sesuatu dengan parameter jahiliyah. Ternyata sisa-sisa jahiliyah masih membekas dalam dirinya.
Sangat berbeda dengan Umar ra, maka parameter yang digunakannya berbeda dengan Abu Sufyan. Sesungguhnya Umar menilai segala sesuatu berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka saat itu juga Suhail ibn Amr, teman dekatnya yang cukup bijak, mengatakan kepadanya, "Wahai Abu Sufyan, demi Allah, aku tidak peduli dengan pintu Umar dan izinnya. Akan tetapi, aku khawatir bila kita dipanggil pada hari Kiamat nanti, maka mereka masuk surga, sedangkan kita ditinggalkan, karena sesungguhnya mereka dan kita diseru, ternyata mereka lah yang menyambutnya, sedangkan kita mengingkari. Oleh karena itu, pantaslah bila mereka didahulukan, sedangkan kita dibelakangkan".
Perhatikan bagaimana Umar ra menilai martabat manusia hanya berdasarkan parameter taqwa kepada Allah Ta'ala. Dalam pemerintahan Umar ra masih belum puas, kecuali bila Bilal harus diprioritaskan atas mereka semuanya, karena sesungguhnya Bilal adalah orang yang lebih dahulu masuk Islam. Apakah kaum muslimin sudah lupa kalimat : "Ahad! Ahad!", sedang tubuh Bilal dijemur diatas padang pasir yang terik panasnya mendidih, dipukuli, diseret dengan kuda, dan didera dengan berbagai siksaan, sementara yang menyiksanya berkata, "Tinggalkanlah Tuhan sembahanmu!", sedang Bilal hanya mengatakan, "Ahad! Ahad!"?.
Oleh karena itu, Bilal didahululkan, karena dia telah mengenal jalan menuju kepada Allah Azza Wa Jalla. Rasul shallahu alaihi wa sallam pernah memanggil Bilal, lalu bersabda :
"Hai Bilal, mengapa engkau mendahuluiku masuk surga? Sesungguhnya ketika aku masuk surga tadi malam (malam Isra'), aku mendengar suara terompahmu dihadapanku".
Bilal menjawab : "Wahai Rasulullah, tidaklah sekali-kali aku menyerukan adzan, melainkan terlebih dahulu aku melakukan shalat dua rakaat dan tidak sekali-kali aku mengalami hadast, melainkan aku berwudhu. sesudahnya, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat sebagai kewajibanku kepada Allah". Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda : "Karena kedua-duanya". Dan, Billal tidak menjawab : "Karena aku punya harta, anak, dan kedudukan atau pangkat".
Demikian itu, karena kedudukannya adalah taqwa kepada Allah, pangkatnya adalah kalimat "la ilaaha illalloh", dan bekalnya adalah kalimat "la haula wa laa quwwata illaa billaah" (tiada daya untuk menghindar dari kedurhakaan) dna tiada kekuatan (untuk melakukan ketaatan) kecuali dengan pertolongan Allah, dan kendaraannya adalah, "Aku beriman kepada Allah". Wallahu'alam.