Tampilkan postingan dengan label medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

Anak Menderita Rinitis Alergi

image
Dok, anak saya didiagnosa menderita rinitis alergi yang menyebabkan dia sering bersin dan pilek. Kata dokter, anak saya alergi terhadap debu. Bisa tolong saya sebenarnya rinitis alergi itu apa? Selain debu, penyebabnya apa saja? Dan bagaimana penanganannya? Terima kasih. (Ibu Kumala-Solo)
Jawaban :
Rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala-gejala bersin-bersin, keluarnya cairan dari hidung, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar dengan allergen (zat yang menyebabkan alergi pada orang-orang tertentu).
Allergen pun ada bermacam-macam yaitu, Allergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan misalnya debu, tungau/kutu, bulu binatang, serta jamur. Allergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna berupa makanan misalnya susu, telur, coklat dan udang. Allergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan misalnya obat antibiotik atau sengatan lebah.
Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin yang berulang-ulang terutama pada pagi hari, atau bila terdapat kontak dengan sejumlah debu, gejala lainnya adalah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, mata gatal, dan kadang disertai dengan keluarnya air mata. Beberapa gejala lain yang tidak khas adalah adanya bayangan gelap di bawah mata (allergic shinner), gerakan menggosok-gosok hidung pada anak-anak (allergic salute), timbul garis pada bagian depan hidung (allergic crease)
Sebenarnya terapi yang paling ideal pada semua penyakit alergi, termasuk rinitis alergi adalah dengan menghindari kontak dengan alergen penyebab. Biasanya dokter akan memberikan obat-obat antihistamin atau dikombinasi dengan dekongestan oral dan kortikosteroid. Setelah gejala menghilang hendaknya kita menghindari zat-zat atau benda-benda yang akan memicu reaksi alergi pada tubuh kita. Karena bila kita kembali terpapar oleh alergen tersebut bisa dipastikan gejala alergi akan muncul lagi. Jika obat-obatan tidak banyak membantu, maka biasanya dokter akan menyarankan anda untuk suntik immunotherapy. Ini adalah suntikan alergi dimana alergen yang menyebabkan anda alergi, disuntikkan ke bawah kulit anda, dalam dosis yang sangat kecil. Ini akan membuat tubuh anda terbiasa dengan alergen itu sehingga anda hanya akan mengalami gejala yang lebih sedikit dan lebih ringan.
[Dr. Diyah Ika Murianto]

Senin, 18 April 2011

Tidak Ada Olahraga Sebabkan Kematian

Orasi Ilmiah Prof Dr Muchsin Doewes PFark MARS
image
KASUS kematian mendadak yang menimpa Aji Massaid, Basuki, Benyamin, maupun selebriti dan masyarakat lainnya, karena olahraga, dibantah ahli kesehatan olahraga, Prof Dr Muchsin Doewes PFark MARS.

"Tidak ada olahraga yang mengakibatkan kematian. Matinya mereka itu secara mendadak, bukan karena olahraganya. Tetapi, bisa karena porsinya yang berlebihan, atau penyebab lain. Bukan karena rajin berolahraga," kata dia.

Malah, dibandingan orang yang meninggal di tempat tidur karena sakit, lebih banyak dibandingkan meninggal karena olahraga. Karena itu, tidak perlu takut berolahraga, menggerakkan tubuh. Sebab jika tidak, maka usianya akan pendek. Bahkan, kepada kelompok lanjut usia (lansia), dia menyarankan untuk olahraga rutin. Bagi lansia sangat penting. Dengan berlatih rutin sedetik, akan menambah panjang usia dua detik.

Itu hipotesa yang sudah diakui oleh kalangan ahli kesehatan olahraga. "Karena itu kalau ingin tetap berkualitas meski sudah lansia, panjang umur, lakukan olahraga secara teratur. Paling tidak jalan kaki, lari, renang, sepeda statis, atau apapun. Yang penting gerak," paparnya.

Imbauan itu akan disampaikan pada orasi ilmiah pengukuhan guru besar UNS bidang Kedokteran Olahraga, Selasa pekan depan. Dia menawarkan 10 tips untuk memperpanjang rentang usia. Dirinya sudah membuktikan. Di usianya yang menginjak 64 tahun, dia masih produktif. Dia pun masih nampak segar dan fit.

Bahkan, seminggu empat sampai lima kali masih bisa lari dari Karanganyar menuju Karangpandan dengan kondisi jalan menanjak. "Kalau pas lagi malas, paling tidak saya berjalan kaki sepanjang citywalk di sepanjang Slamet Riyadi. Mulai Purwosari sampai ke Gladak. Atau jalan kaki seputar Manahan. Itu sudah cukup," kata dia.

Tentu, selain olahraga teratur, lansia harus bisa menjaga asupan makanan. Kalori yang dicerna harus dikurangi. Sebab penelitian menyebutkan, meski hanya diberi asupan 30% saja dari kondisi normal, justru kondisinya jauh lebih segar. Selain itu, kata Muchsin, menjaga silaturahim. Ketika lansia menjadi penyendiri, kurang interaksi social, system kekebalan tubuhnya berkurang.

Sebaliknya orang yang suka silaturahim, setidaknya 3 kali sebulan, usianya lebih panjang setahun. "Tentu yang paling penting adalah memiliki semangat dan gairah hidup. Sebab ketika gairah hidup terus dipelihara dan manusia masih terus memiliki tujuan dan cita-cita, itu akan memperpanjang usia harapan hidupnya," kata dia.

Dia mengatakan, berolahraga adalah sunatullah. Karena manusia memang disuruh bergerak terus oleh Allah. Karena itu manusia yang tidak senang berolahraga, dia tidak mensyukuri karunia Tuhannya.

Konsep Mengatur Kombinasi OHO

Oleh dr Tjokorda Gde Dalem Pemayun SpPD
PADA penderita Diabetes Melitus Type (DM-T2), terdapat 4 kelainan metabolik yang utama yaitu : a).obesitas, b).gangguan aksi insulin perifer, c).gangguan sekresi  insulin  pancreas, d).peningkatan HGP.
(1) Oleh karena itu, hiperglikemia terjadi akibat dari gabungan beberapa faktor antara lain :  a).resistensi insulin baik di sel hati maupun di sel otot, b).menurunnya ambilan glukosa oleh jaringan perifer (insulin-mediated glucose disposal), c).meningkatnya hepatic glucose production (HGP), d).menurunnya sekresi insulin oleh pankreas.
Kadar glukosa darah akan kembali menuju normal bila semua faktor-faktor patologik tersebut diatas dapat diperbaiki, baik dengan memakai Insulin atau obat hipoglikemik oral (OHO). Pemberian OHO dapat  sebagai monoterapi maupun  kombinasi sesama OHO, agar tercapai  kontrol glukosa yang optimal.(1,2)
Sulfonilurea, termasuk dalam golongan Insulin secretagogous. Telah dipakai secara luas sebagai monoterapi maupun kombinasi. Efek samping yang kurang menyenangkan dari Sulfonilurea pada umumnya hipoglikemia dan berat badan meningkat. Metformin, termasuk obat golongan Biguanide, disebut juga Insulin sensitizer.
Obat ini telah dipakai sejak lama  baik sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan Sulfonilurea, Thiazolidinediones, maupun Insulin. Walaupun mekanisme kerja  Metformin sampai saat ini tidak sepenuhnya dipahami, Metformin dapat menurunkan HGP dan meningkatkan sensitifitas insulin perifer.
Acarbose, obat golongan  -glucosidase inhibitors, dapat menurunkan hiperglikemia post-prandial dengan memperlambat absorpsi karbohidrat kompleks di usus halus. Obat ini dapat dipakai sebagai monoterapi maupun kombinasi.
Thiazolidinediones, disebut juga Insulin sensitizer, dapat meningkatkan sensitifitas insulin di sel hati (terutama) dan sel otot. Obat ini diberikan sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan Sulfonilurea, Metformin maupun dengan Insulin.(3,4,5)
Mengingat bahwa komplikasi kronik DM-T2 bisa dicegah dengan melakukan kontrol glukosa darah yang optimal, maka rasionaliasi terapi kombinasi sesama OHO dengan titik kerja yang berbeda perlu dipahami baik aspek farmakokinetik dan farmakodinamik, maupun aspek klinik Terapi kombinasi beberapa jenis OHO secara rasional akan memberikan banyak manfaat di antaranya: dosis yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi, risiko hipoglikemia berkurang,  risiko berat badan meningkat  akan berkurang,  resistensi insulin akan berkurang dan kelelahan sel beta pancreas juga berkurang.
Pendekatan Terapi Diabetes Mellitus tipe 2.
DCCT, tahun 1993, yang mengamati perjalanan alamiah penderita DM-T1 menyimpulkan bahwa terapi intensif  dapat mencegah 60% risiko neuropati dan albuminuria, sementara itu terapi konvensional hanya dapat mencegah 54%.
Pada UKPDS, tahun 1998, yang mengamati perjalanan alamiah penderita DM-T2, terapi intensif jauh lebih unggul dibandingkan dengan terapi konvensional dalam mencegah secara bermakna komplikasi mikroangiopati diabetika,  tetapi tidak bermakna terhadap makroangiopati diabetika.
Pendekatan terapi intensif terdiri dari beberapa model pendekatan antara lain : 1. Stepped-up care, 2. Multiple defects require multiple agents, 3. Basal bolus concept, 4. Insulin pump.(5) Stepped-up care, pendekatan model ini  menggunakan OHO yang dapat disertai dengan kombinasi Insulin bila diperlukan.
Kelemahan dari pendekatan cara ini adalah terlalu lama menunggu glukosa darah normal. Akibatnya toksisitas glukosa  semakin berat, resistensi insulin juga bertambah berat sehingga timbulnya kelelahan sel beta pancreas semakin cepat.
Multiple defects require multiple agents, pendekatan ini dikembangkan atas dasar patogenesis DM-T2, yang  multi patologik termasuk diantaranya resistensi insulin di sel otot dan sel lemak, gangguan sekresi insulin pancreas serta  meningkatnya produksi glukosa hati.
Walaupun tetap memakai pendekatan individu, melakukan terapi kombinasi beberapa OHO yang disertai dengan Insulin secara dini,  terbukti mampu mencegah komplikasi kronik DM-T2, mencegah kemunduran progresif sel beta pankreas.
Basal-bolus concept, pendekatan ini ditujukan baik untuk terapi DM-T1 dan DM-T2 yang menggunakan insulin dosis multiple, dengan maksud meniru sekresi insulin fisiologik. Insulin basal memakai Glargine, sedangkan insulin prandial memakai insulin regular, insulin lispro human, maupun insulin aspart.
Insulin pump, pendekatan ini sangat mahal, lebih ditujukan untuk DM-T1, walaupun beberapa tahun terakhir  berhasil baik juga pada DM-T2.  Keuntungan metoda ini adalah kebutuhan insulin penderita lebih mendekati dosis fisiologik, baik kebutuhan dosis basal maupun dosis prandial serta risiko hipoglikemia yang kecil sekali.(5)
Beberapa Penelitian Klinik Terapi Kombinasi OHO
Oleh karena lebih dari 20% penderita DM-T2 saat diagnosis ditegakkan sudah terjadi komplikasi mikroangiopati diabetika, maka konsep pendekatan  Multiple defects require multiple agents sangat rasional.
Sebuah penelitian acak, tersamar ganda, multi center, pengamatan 2 tahun, pada penderita DM-T2, memakai kombinasi Nateglinide atau Glyburide dengan Metformin, menyimpulkan bahwa kombinasi OHO diatas sangat aman. Kombinasi OHO ini dapat diberikan pada  DM-T2  saat pertama kali ditegakkan. (6).
Nateglinide sebagai monoterapi atau kombinasi dengan Metformin, terbukti sangat efektif memperbaiki HbA1c,  menurunkan glukosa puasa maupun glukosa prandial. Nateglinide adalah turunan asam amino acid-d-phenilalanine, merangsang sel beta pankreas sangat cepat, dengan durasi pendek. Nateglinide mampu mengendalikan lonjakan glukosa darah post prandial paling baik. Sedangkan Metformin tidak mensekresi insulin pankreas, tetapi menekan pruduksi glukosa hati, sehingga mampu mengontrol glukosa puasa.(7)
Nateglinide dapat sebagai monoterapi atau kombinasi dengan Thiazolidinediones. Penelitian acak, tersamar ganda, multi  center, dengan pengamatan 24 minggu, menyimpulkan bahwa kombinasi ini mampu menurunkan HbA1c sangat bermakna terutama bila HbA1c  lebih dari 8%.(8)
Nateglinide dapat ditambahkan pada Rosiglitazone 8 mg monoterapi untuk menekan hiperglikemia post prandial. Kombinasi ini mempunyai tolerabilitas tinggi dan aman.(9)
Repaglinide 0,5 - 4 mg, (satu golongan dengan Nateglinide),  kombinasi dengan Troglitazone 200-600 mg, mempunyai efektifitas jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Troglitazone monoterapi.(10) Efektifitas kombinasi Repaglinide dengan  Metformin lebih unggul dibandingkan kombinasi Nateglinide dengan  Metformin.
Keadaan ini terjadi  karena Nateglinide bisa merangsang  sekresi hormon Glucagon dan Growth hormon, sedangkan Repaglinide tidak mempunyai efek seperti itu. Akibatnya pengaruh post prandial Nateglinide lebih rendah dibandingkan dengan Repaglinide (11)
Miglitol bila ditambahkan pada Metformin ternyata berpengaruh sinergistik dibandingkan pemberian Metformin monoterapi. Penelitian acak, tersamar ganda, multi center ini melibatkan 324 penderita DM-T2 dengan pengamatan selama 8 minggu. Miglitol adalah pseudomonosakarida a glukosidase inhibitor, dapat menghambat metabolisme oligosakarida, memperlambat absorpsi karbohidrat di usus halus. Pada usia lanjut Miglitol monoterapi sangat efektif menekan hiperglikemia post prandial.(12).
Acarbose, suatu a glukkosidase inhibitor  juga dapat ditambahkan pada pemberian Metformin monoterapi dengan manfaat yang sama seperti miglitol dengan metformin.(13)
Sulfonylrea yang dikombinasikan dengan metformin menunjukkan hasil yang sama dengan sulfonilurea dikombinasikan dengan pioglitazon, dalam hal  penurunan ratio albuminuria dengan kreatinin. Kombinasi sulfonylurea dengan metformin lebih signifikan menurunkan  kolesterol LDL.(14)
Banyak penelitian-penelitian yang menggunakan Sulfonylurea bila ditambahkan metformin menurunkan HbA1c sangat signifikan.(15) Sulfonilurea (Glipizide GITS) yang dikombinasikan dengan metformin dapat menurunkan marker-marker  fibrinolisis akibat hiperglikemik yang tidak terkendali. Manfaat ini sangat menguntungkan karena dapat menurunkan risiko aterosklerosis.(16).
Metformin  dapat dikombinasikan dengan semua jenis OHO golongan lain, yang mempunyai titik tangkap yang berbeda. Metformin juga dapat dikombinasikan  dengan Insulin, bila glukosa darah belum mencapi target pengendalian yang optimal.(17,18)
Mengingat bahwa patogenesis diabetes melitus tipe 2 adalah multifaktorial, serta perjalanan alamiah diabetes melitus tipe 2 juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berkaitan sebelum  komplikasi makrongiopati maupun mikroangipati itu muncul,  maka  rasionalisasi terapi kombinasi OHO dengan OHO maupun OHO dengan Insulin sebaiknya dipikirkan lebih dini.(19)
Kesimpulan
Obat hipoglimia oral (OHO) adalah salah satu pilar penting dari konsep penangan terpadu penderita diabetes melitus tipe 2. Berbagai jenis OHO yang telah diselidiki, dan dikembangkan sampai saat ini, akan memberikan manfaat klinik jangka panjang apabila diberikan secara rasional.
Terapi kombinasi OHO golongan  Insulin sekretagogous dengan golongan Insulin Sensitizer  nampaknya paling rasional dilihat dari sudut pandang patogenesis Diabetes melitus type 2. 

Infeksi Pylori Berhubungan dengan Kanker Lambung

image BELAKANG ini, infeksi bakteri heliobacter pylori (h pylori) mendapat perhatian besar dunia medis, karena terbukti berhubungan dengan kanker lambung. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa penderita dengan riwayat atau infeksi h plyori mengalami resiko kejadian kanker lambung sebanyak 2,7 hingga 12 kali. Resiko itu meningkat terutama ketika infeksi h pylori terjadi saat usia muda.
Prevalensi h pylori di setiap negara sangat bervariasi. Di negara maju, prevalensi h pylori tidak lebih dari 40% dengan usia muda dan remaja mempunyai kejadian infeksi lebih rendah dibanding usia dewasa. Tetapi di negara berkembang, prevalensi infeksi pada anak di bawah umur lima tahun lebih tinggi. Angka kejadian infeksi h pylori meningkat dengan cepat dan tinggi.
''Hal ini menunjukkan bahwa infeksi h pylori terjadi pada usia dini,'' kata Prof dr Muhammad Juffrie SpA(K) PhD, saat menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Kedokteran di Balai Senat UGM, Jumat (4/2).
Data menunjukkan prevalensi infeksi h pylori pada anak di Indonesia juga bervariasi. Penelitian di Jakarta menunjukkan prevalensi infeksi mencapai 20%, di Mataram 40%, dan di Yogyakarta diketahui 25% dari pasien yang datang ke RS Sardjito mengeluhkan sakit perut yang berulang.
Keganasan lambung merupakan hasil dari serangkaian proses yang dipicu oleh infeksi h pylori yang ditandai dengan akumulasi gangguan molekuler. Keganasan lambung merupakan salah satu tumor dengan frekuensi metilasi gugus.
Menghilangkan bakteri h pylori pada anak bisa mencegah proses epigenetik keganasan kanker lambung, sehingga kejadian kanker lambung saat dewasa bisa dihindari. Penentuan eradikasi infeksi pada bakteri itu saat masa anak-anak merupakan masa emas karena epitel lambung belum mencapai fase pre kanker akibat proses epigenetk dari infeksi h pylori.
''Jika eradikasi dilakukan setelah masa anak-anak di mana epitel lambung sudah pada stadium pre kanker, maka eradikasi ini tidak bermanfaat untuk mengubah epigenetic kanker lambung,'' urai Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM itu.
Kondisi tersebut menurut dokter spesialis anak konsultan Gastrohepatologi itu, menjadi sebuah tantangan bagi para dokter spesialis anak untuk lebih mencermati gejala tanda yang muncul. Selain itu juga melakukan  pemeriksaan penunjang diagnosis infeksi h pylori sehingga diagnosis bisa ditegakkan sedini mungkin dan eradikasi dapat lebih awal sebelum terlambat.

Rabu, 11 Agustus 2010

MEDIS

BISOPROLOL FUMARATE
Tablet salut selaput

Komposisi :

Tiap tablet salut selaput mengandung:

Bisoprolol fumarate 5 mg

Farmakologi :

Bisoprolol adalah zat penyekat (blocking) adrenoreseptor S, selektif (kardioselektif) sintetik tanpa aktivitas stabilisasi membran yang signifikan atau aktivitas simpatomimetik intrinsik pada dosis terapi. Namun demikian, sifat kardioselektivitasnya tidaklah mutlak, pada dosis tinggi ( >20 mg) bisoprolol fumarate juga menghambat adrenoreseptor p2 yang terutama terdapat pada otot-otot bronkus dan pembuluh darah; untuk mempertahankan selektivitasnya, penting untuk menggunakan dosis efektif terendah.

Farmakodinamik :

Mekanisme kerja antihipertensi dari bisoprolol belum seluruhnya diketahui. Faktor-faktor yang terlibat adalah :

1. Penurunan curah jantung

2. Penghambatan pelepasan renin oleh ginjal.

3. Pengurangan aliran tonus simpatis dari pusat vasomotor pada otak.

Pada orang sehat, pengobatan dengan bisoprolol menurunkan kejadian takikardia yang diinduksi oleh aktivitas fisik dan isoproterenol. Efek maksimum terjadi dalam waktu 1-4 jam setelah pemakaian. Efek tersebut menetap selama 24 jam pada dosis >5 mg. Penelitian secara elektrofisiologi pada manusia menunjukkan bahwa bisoprolol secara signifikan mengurangi frekuensi denyut jantung, meningkatkan waktu pemulihan sinus node, memperpanjang periode refrakter AV node dan dengan stimulasi atrial yang cepat, memperpanjang konduksi/W node. Bisoprolol juga dapat diberikan bersamaan dengan diuretik tiazid. Hidroklorotiazid dosis rendah (6,25 mg) digunakan bersamaan dengan bisoprolol fumarate untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi ringan sampai sedang.

Farmakokinetik :

Bioavailabilitas dosis oral 10 mg adalah sekitar 80%. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Metabolisme lintas pertama bisoprolol fumarate sekitar 20%. Ikatan dengan protein serum sekitar 30%. Konsentrasi puncak plasma pada dosis 5-20 mg terjadi dalam 2-4 jam, dan nilai puncak rata-rata berkisar dari 16 ng/ml pada 5 mg hingga 70 ng/ml pada 20 mg. Pemberian bisoprolol fumarate sekali sehari memperlihatkan adanya variasi kadar plasma puncak intersubyek kurang dari dua kali lipat. Waktu paruh eliminasi plasma adalah 9-12 jam dan sedikit lebih lama pada penderita usia lanjut, hal ini disebabkan menurunnya fungsi ginjal. Steady state dicapai dalam 5 hari, pada dosis sekali sehari. Akumulasi plasmanya rendah pada penderita usia muda dan tua; faktor akumulasi berkisar antara 1,1 sampai 1,3, sesuai dengan yang diharapkan dari kinetik urutan pertama dan pemberian sekali sehari. Konsentrasi plasma pada dosis 5-20 mg adalah proposional. Karakteristik farmakokinetik dari kedua enansiomer adalah serupa.Bisoprolol fumarate dieliminasi melalui ginjal dan bukan ginjal, sekitar 50% dari dosis, tetap dalam bentuk utuh di urin dan sisanya dalam bentuk metabolit tidak aktif. Kurang dari 2% diekskresikan melalui feses. Bisoprolol fumarate tidak dimetabolisme oleh sitokrom P450 II D6 {debrisokuin hidroksiiase). Pada subyek dengan bersihan kreatinin kurang dari 40 ml/menit, waktu paruh plasma meningkat kira-kira 3 kali lipat dari orang sehat. Pada penderita sirosis hati, eliminasi bisoprolol fumarate lebih bervariasi dalam hal kecepatan dan secara signifikan lebih lambat dari orang sehat, dengan waktu paruh plasma berkisar antara 8,3 hingga 21,7 jam.

Indikasi :

Bisoprolol diindikasikan untuk hipertensi, bisa digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan antihipertensi lain.

Kontraindikasi :

- Hipersensitif terhadap bisoprolol fumarate.

- Bisoprolol dikontraindikasikan pada penderita cardiogenic shock, kelainan jantung, AV block tingkat II atau III, bradikardia sinus.

Dosis :

Dosis awal 5 mg sekali sehari atau dosis dapat ditingkatkan menjadi 10-20 mq sekali sehari pada penderita bronkospastik, gangguan hati (hepatitis atau sirosis) dan gangguan ginjal (bersihan kreatinin kurang dari 40 ml/menit), dengan dosis awal 2,5 mg sekali sehari.

Efek samping :

- Sistim saraf pusat: dizziness, vertigo, sakit kepala, parestesia, hipoaestesia, ansietas, konsentrasi berkurang.

- Sistem saraf otonom: mulut kering.

- Kardiovaskular : bradikardia, palpitasi dan gangguan irama lainnya, cold extremities, klaudikasi, hipotensi, hipotensi ortostatik, sakit dada, gagal jantung.

- Psikiatrik : insomnia, depresi. Kardiovaskular: bradikardia, palpitasi dan gangguan irama lainnya, cold extremities, klaudikasi, hipotensi, hipotensi ortostatik, sakit dada, gagal jantung.

- Psikiatrik: insomnia, depresi.

- Gastrointestinal: nyeri perut, gastritis, dispepsia, mual, muntah, diare, konstipasi.

- Muskuloskeletal: sakit otot, sakit leher, kram otot, tremor.

- Kulit: rash, jerawat, eksim, iritasi kulit, gatal-gatal, kulit kemerahan, berkeringat, alopesia, angioedema, dermatitis eksfoiiatif, vaskulitis kutaneus.

- Khusus: gangguan visual, sakit mata, lakrimasi abnormal, tinitus, sakit telinga.

- Metabolik: penyakit gout.

- Pernafasan: asma, bronkospasme, batuk, dispnea, faringitis, rinitis, sinusitis.

- Genitourinaria: menurunnya libido/impotensi, penyakit Peyronie, sistitis, kolik ginjal.

- Hematologi: purpura.

- Lain-lain: kelemahan, letih, nyeri dada, peningkatan berat badan.

Peringatan dan perhatian :

- Hati-hati bila diberikan pada penderita kelainan ginjai dan hati.

- Obat-obat golongan beta bloker sebaiknya tidak diberikan pada penderita kelainan jantung.

- Pada penderita bronkospastik sebaiknya tidak diberikan obat-obatan golongan beta bloker karena sifat selektivitas beta-1 yang relatif, tetapi bisoprolol dapat digunakan secara hati-hati pada penderita bronkospastik yang tidak menunjukkan respon atau tidak toleran terhadap pengobatan antihipertensi lain.

- Beta bloker dapat menutupi beberapa bentuk hipoglikemia khususnya takikardia. Oleh karena itu penderita hipoglikemia atau diabetes yang mendapat insulin atau obat-obatan hipoglikemik harus hati-hati, begitu juga dengan penggunaan bisoprolol fumarate.

Interaksi obat :

- Bisoprolol sebaiknya tidak dikombinasikan bersama obat-obatan golongan beta bloker.

- Bisoprolol sebaiknya digunakan secara hati-hati bila diberikan bersamaan dengan obat-obat penekan otot jantung atau penghambat konduksi AVseperti kalsium antagonis [khususnya fenilalkilamin (verapamil) dan golongan benzotiazepin (diltiazem)] atau obat-obatan antiaritmik seperti disopiramid.

- Penggunaan bersama rifampisin dapat meningkatkan bersihan metabolit bisoprolol.

Kemasan dan nomor registrasi :

Kotak, 3 blister @ 10 tablet; GKL0305032417A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER.

SIMPAN PADA SUHU Dl BAWAH 30°C, TERLINDUNG DARI CAHAYA.

Dibuat oleh :

DEXA MEDICA

JL BAMBANG UTOYO 138 PALEMBANG- INDONESIA

http://www.farmasiku.com/index.php?target=categories&category_id=191