Awal thn 90-an ditemukan semacam 'jamu herbal' dari suku-suku (tribes) di Amazon yg dpt menyembuhkan bbrp penyakit penting termasuk kanker. Stlh diteliti oleh para ahli farmasi dari AS, ternyata ramuan tsb berasal dari daun pohon Graviola. Daun tsb mengandung zat anti-kanker yg disebut Annonaceous Acetogenin, yg dapat membunuh sel-sel kanker tanpa mengganggu sel-sel sehat dalam tubuh manusia.
Industri farmasi tsb mencoba mematenkan temuan' ini, namun gagal krn bahan aktifnya murni berasal dari tumbuhan di alam, yg artinya milik masyarakat umum. Ironisnya, hasil penelitian ini kemudian 'dikubur', karena dikhawatir-kan dapat merugikan industri 'chemotherapy' yg pada saat itu merupakan alternatif terbaik utk mengatasi penyakit kanker. Akibatnya sebuah obat anti-kanker yg sangat potensial dan murah menghilang utk bbrp tahun sampai pada awal tahun 2000-an.
Salah seorang anggota tim peneliti farmasi tsb membocorkan rahasia tsb utk membantu famili dekatnya yg terserang kanker. Anggota famili tsb sembuh dan menjadi bahan pembicaraan dokter-dokter yg merawatnya. Info ini kemudian tersebar luas dan diteliti ulang oleh para ahli farmasi/ kedokteran dari Korea dan Jepang. Hasilnya menakjubkan!
Kini delapan jenis kanker sudah dapat diobati dengan daun Graviola ini. Lalu tanaman apakah Graviola itu? Ternyata tanaman asli Amazon itu mempunyai nama Latin Annona muricata, yg dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai SIRSAK !!! Waah..!? Pohon sirsak kan ada di-mana2?? Yaa...itulah, ternyata obat kanker yg murah dan mujarab tersedia secara gratis di pekarangan kita dan ironisnya tidak banyak orang yg tahu. Masalahnya adalah bhw pengobatan dgn daun sirsak ini belum tuntas diteliti secara ilmiah, shg banyak orang farmasi/ kedokteran yg belum mengakui khasiatnya.
Dgn perkataan lain, masih merupakan pengobatan alternatif. Pasien yg berduit lebih memilih pengobatan kemoterapi utk mengatasi penyakit kankernya, krn konon 'lebih ilmiah' (walaupun sangat sakit dan menderita) dan mereka mampu membayar mahal. Tapi bagi rakyat kecil yg tidak mampu membayar pengobatan yg mahal, kini ada alternatif pengobatan yg 'tidak ada ruginya dicoba', selain murah, juga mudah didapat.
Dosis yg pernah dicoba adalah:
10 helai daun sirsak yg telah hijau tua, direbus dengan 3 gelas air (600 cc), dan dibiarkan hingga tersisa satu gelas air (200 cc). Setelah adem, lalu disaring dan diminum setiap pagi (ada bbrp pasien yg minum pagi-sore).
Efeknya, perut akan terasa hangat/panas, lalu badan berkeringat deras. Perlu diingat bhw obat herbal ini tidak 'ces-pleng', artinya setelah minum rutin selama 3-4 minggu efeknya baru kelihatan. Kondisi pasien membaik, bisa beraktifitas kembali, dan stlh diperiksa lab/ dokter ternyata sel-sel kankernya mengering, sementara sel-sel lain yg tumbuh (rambut, kuku, dll) sama sekali tidak terganggu. Di internet sudah banyak testimoni ttg para pasien yg mencoba pengobatan alternatif ini. Selain itu sudah ada bbrp perusahaan yg menjual obat Graviola ini dalam bentuk kapsul, shg lebihmudah dan praktis dipakai. Coba saja telusuri melalui Google dgn mengetik: "graviola anti-cancer". Mudah2an bermanfaat........
Di Taman Buah Mekarsari, ada penandatanganan MOU antara JBRO dengan Taman Buah Mekarsari. Dalam kesempatan kunjungan ke area perkebunan,disampai kan oleh salah satu pakar buah disana bahwa Sirsak mempunyai manfaat yang sangat besar dalam pencegahan dan penyembuhan penyakit kanker.
Untuk pencegahan, disarankan makan atau minum jus buah sirsak.
Untuk penyembuhan :
1. Rebus 10 buah daun sirsak yang sudah tua (warna hijau tua) ke dalam 3 gelas air dan direbus terus hingga menguap dan air tinggal 1 gelas saja.
2. Air yang tinggal 1 gelas diminumkan ke penderita setiap hari 2 kali.
Setelah minum, efeknya katanya badan terasa panas, mirip dengan efek kemoterapi.
Dalam waktu 2 minggu, hasilnya bisa dicek ke dokter, katanya cukup berkhasiat. Daun sirsak ini katanya sifatnya seperti kemoterapi, bahkan lebih hebat lagi karena daun sirsak hanya membunuh sel sel yang tumbuh abnormal dan membiarkan sel sel yang tumbuh normal. Sedangkan kemoterapi masih ada efek membunuh juga sebagian sel sel yang normal.
(*/adm)
Wah nothing to lose nih utk dicoba...Gak tau beneran apa kagak ya...
HATI MANUSIA IBARAT GENTONG, SEDANG MULUT ADALAH GAYUNGNYA. GAYUNG YANG TERCURAH LIHATLAH ISIDADANYA
Kamis, 07 April 2011
Minggu, 07 November 2010
Sosok
Lebih Dekat dengan "Mbah Rono"
Minggu, 7 November 2010 | 09:09 WIB
Oleh: Doty Damayanti & Mohamad Final Daeng
Wajah lelah kurang tidur dari pria berkumis dan berkacamata dengan rambut agak kribo itu akrab bagi pemirsa televisi. Kalimat yang dia ucapkan tidak pernah bombastis meski itu menyangkut bencana letusan Gunung Merapi—gunung teraktif di Indonesia—yang sejak 26 Oktober lalu letusannya kian mengancam jiwa mereka yang berdiam di sekitar Merapi.
Bergulat dengan perilaku gunung api sejak tahun 1982, tugas yang diemban Surono meliputi tiga aras: riset pengetahuan, publikasi, dan keselamatan warga. Tiga kepentingan yang sering kali memunculkan dilema.
Lulusan jurusan Fisika ini terpanggil menekuni kegunungapian setelah pengalamannya membawa seorang periset Amerika Serikat ke Gunung Galunggung, Provinsi Jawa Barat, tahun 1982, sementara Gunung Kelud memberikan pelajaran baru tentang berubahnya perilaku sebuah gunung api. Kelud yang dikenal ledakannya yang eksplosif (meletus dengan kekuatan besar) menjadi efusif (materi piroklastik tidak dilontarkan ke udara, tetapi meleleh, mengalir di punggung gunung).
Tugasnya mengawal Gunung Merapi kali ini entah kapan berakhir. Tak seorang pun tahu. Namun, Surono pasti akan tetap setia untuk menerapkan prinsipnya: toleransi nol demi keselamatan jiwa manusia (zero tolerance for a safe life).
Di bawah merupakan rangkuman wawancara Kompas di berbagai kesempatan, termasuk di sela-sela kesibukannya melihat pemasangan alat seismik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).
Ambil alih komando
Sejak Merapi berstatus Awas pada 25 Oktober lalu, Surono, sebagai Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengambil alih komando pemantauan dan mitigasi bencana yang sebelumnya dipegang Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta.
Sejak saat itu seluruh data pemantauan instrumental dan visual Merapi diolah, diserap, dan dianalisisnya untuk mengambil keputusan-keputusan penting, khususnya terkait dengan keamanan warga di sekitar Merapi—ini terkait dengan penentuan radius bahaya primer Merapi.
Tugas yang diembannya amat berat mengingat faktor-faktor: tingkat kesulitan yang tinggi dalam memprediksi perilaku suatu gunung api, keselamatan jiwa warga yang dipertaruhkan, serta dampak-dampak sosial, ekonomi, dan psikologis dari sebuah keputusan. Di ranah itulah posisi Surono berada. Selalu menghadapi dilema dari waktu ke waktu. Hasil analisis dan keputusannya diteruskan sebagai rekomendasi kepada pemerintah daerah sekeliling Merapi dan pihak-pihak terkait lainnya.
Rekomendasi itu menjadi patokan bertindak, khususnya dalam upaya mitigasi dengan mengevakuasi warga. Maka, Surono pun sering dipanggil dengan sebutan Mbah Rono, mengacu pada panggilan kuncen gunung—yang perannya dekat dengan warga.
Salah satu saat paling krusial adalah saat dia menaikkan status Merapi dari Siaga (level III) menjadi Awas (level tertinggi), pada 25 Oktober. Status Awas mengandung konsekuensi: pemerintah harus mengungsikan puluhan ribu penduduk dari ”zona merah”—saat itu radiusnya 10 kilometer dari puncak.
”Jika jarak waktu antara status Awas dan letusan terlalu pendek, pemerintah daerah tidak akan punya cukup waktu mengevakuasi warga. Namun, jika jaraknya terlalu lama, akan menimbulkan masalah sosial besar karena warga akan terlalu lama di pengungsian,” ujarnya suatu waktu.
Dengan segala pengalaman, pengetahuan, dan teknologi terbatas untuk memahami gunung berapi, Surono harus mengambil keputusan dalam kondisi genting. Benar saja, 35 jam setelah ditetapkan berstatus Awas, Merapi meletus pertama kali pada 26 Oktober pukul 17.02.
Meski puluhan ribu jiwa terselamatkan, Surono tetap merasa gagal karena masih terdapat 32 korban jiwa, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. ”Saya merasa gagal karena ternyata tidak bisa dipercaya oleh mereka yang masih bertahan di zona bahaya,” ujar Surono.


Letusan 26 Oktober itu bukan babak akhir drama Merapi tahun ini. Rentetan letusan hingga Jumat (5/11/2010) terus terjadi—letusan pada 3 November dan 5 November berskala lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan 26 Oktober. Keputusan-keputusan krusial terus menghadang dari waktu ke waktu.
Bahkan sempat keputusan memperluas radius berbahaya menjadi berbeda dengan pemerintah setempat. Radius bahaya terus meluas dari 10 km menjadi15 km (3 November) dan menjadi 20 km pada 5 November. Tugas Surono masih panjang karena tidak ada yang tahu kapan gejolak Merapi akan berhenti. Tak ada yang bisa menjamin klimaks letusan telah tercapai.
Tugas Surono semakin berat dan memusingkan karena kali ini Merapi keluar dari tabiat khasnya yang ”kalem” dan tidak meledak-ledak. Meski sudah ada persiapan sejak tahun 2007, setelah Merapi meletus 2006, tak seorang pun mengira letusan kali ini bakal sedemikian besar.
”Tadinya kami mengira masyarakat kita sudah cukup terdidik untuk menghadapi bahaya letusan Merapi. Masyarakat masih terus mengacu pada pengalaman letusan-letusan sebelumnya. Padahal, generasi yang mengalami letusan tahun 1930 tinggal sedikit, sementara letusan tahun 1994 dan 2006 sifatnya hanya sektoral dan kecil. Kita perlu belajar bahwa ternyata Merapi berubah,” tutur Surono.
Ingatan empiris
Dia menjelaskan, karena acuan yang ada hanya ingatan empiris, pada waktu Awas masyarakat tidak melihat api diam, juga tidak terbiasa dengan status Awas yang demikian pendek. Rupanya kekagetan melihat perilaku Merapi yang berubah juga dialami ilmuwannya. Sejak tanggal 23 Oktober, energi Merapi meningkat langsung menjadi tiga kali lipat daripada letusan 1997, 2001, ataupun 2006.
”Sewaktu kita mau menaikkan ke status Awas, proses pengambilan keputusannya jadi krusial karena hanya sejam,” katanya.
”Tidak ada pengetahuan yang bisa mengontrol kemauan alam, termasuk mengatur Merapi. Yang tahu maunya Merapi, ya cuma Merapi sendiri. Saya hanya membaca dan menyampaikan pesan-pesannya,” ujarnya.
Dia kini sering menambahkan, ”Mari kita berdoa, berharap yang terbaik yang terjadi, semoga kondisi tidak semakin parah.”
Sebagai upaya mitigasi, tidak perlu semua gunung api ditambah alat pemantau. ”Selektif saja, di daerah bahaya yang dekat dengan tempat wisata. City volcano, seperti Merapi ini, perlu ditambah peralatan pemantaunya, makanya kita datangkan dari Sinabung. Dari empat stasiun pemantau di Merapi, tinggal Plawangan yang menyala, tiga yang lain mati, tidak kuat terkena erupsi. Sekarang sedang kita tambah dengan memasang alat pemantau di UGM, Museum Merapi, dan Imogiri,” tuturnya.
Dia menegaskan, data dari pos-pos gunung api adalah lini pertahanan terdepan, lini kedua ada di kantor pusat vulkanologi di Bandung. ”Sistem peringatan dini yang kita pasang harus disertai riset tentang karakter setiap gunung api,” lanjutnya.
Sebagai negeri di daerah cincin api dengan 129 gunung api, negeri ini kaya akan ilmuwan. ”Ahli kita banyak sebenarnya, banyak yang dilamar oleh lembaga riset luar negeri. Riset itu penting, tetapi tetap harus berguna, harus bisa dipakai untuk mitigasi, what next, jangan sampai riset itu kesimpulannya masih kurang data dan perlu riset lanjutan,” tegasnya.
Teknologi yang dimiliki Indonesia sebenarnya telah mencukupi. Dia tak rela jika Indonesia menjadi laboratorium dunia. ”Orang luar mencoba alat, lalu kalau bagus dijual ke kita. Ketika Badan Geologi AS (USGS) menawari Indonesia masuk dalam pemantauan 1.000 gunung api, saya tanya ke staf saya, ’Bisa tidak kamu belajar di sana lalu kamu curi ilmunya’.”
”Target kita, tahun 2011 sudah harus mandiri dalam teknologi. Tahun ini peta kawasan rawan bencana gunung api tipe A sudah harus selesai agar pemerintah daerah bisa segera menyesuaikan dengan penyusunan tata ruang,” ungkapnya. (Brigitta Isworo Laksmi)
Wajah lelah kurang tidur dari pria berkumis dan berkacamata dengan rambut agak kribo itu akrab bagi pemirsa televisi. Kalimat yang dia ucapkan tidak pernah bombastis meski itu menyangkut bencana letusan Gunung Merapi—gunung teraktif di Indonesia—yang sejak 26 Oktober lalu letusannya kian mengancam jiwa mereka yang berdiam di sekitar Merapi.
Bergulat dengan perilaku gunung api sejak tahun 1982, tugas yang diemban Surono meliputi tiga aras: riset pengetahuan, publikasi, dan keselamatan warga. Tiga kepentingan yang sering kali memunculkan dilema.
Lulusan jurusan Fisika ini terpanggil menekuni kegunungapian setelah pengalamannya membawa seorang periset Amerika Serikat ke Gunung Galunggung, Provinsi Jawa Barat, tahun 1982, sementara Gunung Kelud memberikan pelajaran baru tentang berubahnya perilaku sebuah gunung api. Kelud yang dikenal ledakannya yang eksplosif (meletus dengan kekuatan besar) menjadi efusif (materi piroklastik tidak dilontarkan ke udara, tetapi meleleh, mengalir di punggung gunung).
Tugasnya mengawal Gunung Merapi kali ini entah kapan berakhir. Tak seorang pun tahu. Namun, Surono pasti akan tetap setia untuk menerapkan prinsipnya: toleransi nol demi keselamatan jiwa manusia (zero tolerance for a safe life).
Di bawah merupakan rangkuman wawancara Kompas di berbagai kesempatan, termasuk di sela-sela kesibukannya melihat pemasangan alat seismik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).
Ambil alih komando
Sejak Merapi berstatus Awas pada 25 Oktober lalu, Surono, sebagai Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengambil alih komando pemantauan dan mitigasi bencana yang sebelumnya dipegang Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta.
Sejak saat itu seluruh data pemantauan instrumental dan visual Merapi diolah, diserap, dan dianalisisnya untuk mengambil keputusan-keputusan penting, khususnya terkait dengan keamanan warga di sekitar Merapi—ini terkait dengan penentuan radius bahaya primer Merapi.
Tugas yang diembannya amat berat mengingat faktor-faktor: tingkat kesulitan yang tinggi dalam memprediksi perilaku suatu gunung api, keselamatan jiwa warga yang dipertaruhkan, serta dampak-dampak sosial, ekonomi, dan psikologis dari sebuah keputusan. Di ranah itulah posisi Surono berada. Selalu menghadapi dilema dari waktu ke waktu. Hasil analisis dan keputusannya diteruskan sebagai rekomendasi kepada pemerintah daerah sekeliling Merapi dan pihak-pihak terkait lainnya.
Rekomendasi itu menjadi patokan bertindak, khususnya dalam upaya mitigasi dengan mengevakuasi warga. Maka, Surono pun sering dipanggil dengan sebutan Mbah Rono, mengacu pada panggilan kuncen gunung—yang perannya dekat dengan warga.
Salah satu saat paling krusial adalah saat dia menaikkan status Merapi dari Siaga (level III) menjadi Awas (level tertinggi), pada 25 Oktober. Status Awas mengandung konsekuensi: pemerintah harus mengungsikan puluhan ribu penduduk dari ”zona merah”—saat itu radiusnya 10 kilometer dari puncak.
”Jika jarak waktu antara status Awas dan letusan terlalu pendek, pemerintah daerah tidak akan punya cukup waktu mengevakuasi warga. Namun, jika jaraknya terlalu lama, akan menimbulkan masalah sosial besar karena warga akan terlalu lama di pengungsian,” ujarnya suatu waktu.
Dengan segala pengalaman, pengetahuan, dan teknologi terbatas untuk memahami gunung berapi, Surono harus mengambil keputusan dalam kondisi genting. Benar saja, 35 jam setelah ditetapkan berstatus Awas, Merapi meletus pertama kali pada 26 Oktober pukul 17.02.
Meski puluhan ribu jiwa terselamatkan, Surono tetap merasa gagal karena masih terdapat 32 korban jiwa, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. ”Saya merasa gagal karena ternyata tidak bisa dipercaya oleh mereka yang masih bertahan di zona bahaya,” ujar Surono.
Tidak ada pengetahuan yang bisa mengontrol kemauan alam, termasuk mengatur Merapi.
Letusan 26 Oktober itu bukan babak akhir drama Merapi tahun ini. Rentetan letusan hingga Jumat (5/11/2010) terus terjadi—letusan pada 3 November dan 5 November berskala lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan 26 Oktober. Keputusan-keputusan krusial terus menghadang dari waktu ke waktu.
Bahkan sempat keputusan memperluas radius berbahaya menjadi berbeda dengan pemerintah setempat. Radius bahaya terus meluas dari 10 km menjadi15 km (3 November) dan menjadi 20 km pada 5 November. Tugas Surono masih panjang karena tidak ada yang tahu kapan gejolak Merapi akan berhenti. Tak ada yang bisa menjamin klimaks letusan telah tercapai.
Tugas Surono semakin berat dan memusingkan karena kali ini Merapi keluar dari tabiat khasnya yang ”kalem” dan tidak meledak-ledak. Meski sudah ada persiapan sejak tahun 2007, setelah Merapi meletus 2006, tak seorang pun mengira letusan kali ini bakal sedemikian besar.
”Tadinya kami mengira masyarakat kita sudah cukup terdidik untuk menghadapi bahaya letusan Merapi. Masyarakat masih terus mengacu pada pengalaman letusan-letusan sebelumnya. Padahal, generasi yang mengalami letusan tahun 1930 tinggal sedikit, sementara letusan tahun 1994 dan 2006 sifatnya hanya sektoral dan kecil. Kita perlu belajar bahwa ternyata Merapi berubah,” tutur Surono.
Ingatan empiris
Dia menjelaskan, karena acuan yang ada hanya ingatan empiris, pada waktu Awas masyarakat tidak melihat api diam, juga tidak terbiasa dengan status Awas yang demikian pendek. Rupanya kekagetan melihat perilaku Merapi yang berubah juga dialami ilmuwannya. Sejak tanggal 23 Oktober, energi Merapi meningkat langsung menjadi tiga kali lipat daripada letusan 1997, 2001, ataupun 2006.
”Sewaktu kita mau menaikkan ke status Awas, proses pengambilan keputusannya jadi krusial karena hanya sejam,” katanya.
”Tidak ada pengetahuan yang bisa mengontrol kemauan alam, termasuk mengatur Merapi. Yang tahu maunya Merapi, ya cuma Merapi sendiri. Saya hanya membaca dan menyampaikan pesan-pesannya,” ujarnya.
Dia kini sering menambahkan, ”Mari kita berdoa, berharap yang terbaik yang terjadi, semoga kondisi tidak semakin parah.”
Sebagai upaya mitigasi, tidak perlu semua gunung api ditambah alat pemantau. ”Selektif saja, di daerah bahaya yang dekat dengan tempat wisata. City volcano, seperti Merapi ini, perlu ditambah peralatan pemantaunya, makanya kita datangkan dari Sinabung. Dari empat stasiun pemantau di Merapi, tinggal Plawangan yang menyala, tiga yang lain mati, tidak kuat terkena erupsi. Sekarang sedang kita tambah dengan memasang alat pemantau di UGM, Museum Merapi, dan Imogiri,” tuturnya.
Dia menegaskan, data dari pos-pos gunung api adalah lini pertahanan terdepan, lini kedua ada di kantor pusat vulkanologi di Bandung. ”Sistem peringatan dini yang kita pasang harus disertai riset tentang karakter setiap gunung api,” lanjutnya.
Sebagai negeri di daerah cincin api dengan 129 gunung api, negeri ini kaya akan ilmuwan. ”Ahli kita banyak sebenarnya, banyak yang dilamar oleh lembaga riset luar negeri. Riset itu penting, tetapi tetap harus berguna, harus bisa dipakai untuk mitigasi, what next, jangan sampai riset itu kesimpulannya masih kurang data dan perlu riset lanjutan,” tegasnya.
Teknologi yang dimiliki Indonesia sebenarnya telah mencukupi. Dia tak rela jika Indonesia menjadi laboratorium dunia. ”Orang luar mencoba alat, lalu kalau bagus dijual ke kita. Ketika Badan Geologi AS (USGS) menawari Indonesia masuk dalam pemantauan 1.000 gunung api, saya tanya ke staf saya, ’Bisa tidak kamu belajar di sana lalu kamu curi ilmunya’.”
”Target kita, tahun 2011 sudah harus mandiri dalam teknologi. Tahun ini peta kawasan rawan bencana gunung api tipe A sudah harus selesai agar pemerintah daerah bisa segera menyesuaikan dengan penyusunan tata ruang,” ungkapnya. (Brigitta Isworo Laksmi)
Lahir | Cilacap, Jawa Tengah, 8 Juli 1955 |
Istri | Sri Surahmi (46) |
Anak | 1. Amy Rahmawati (28) 2. Bestri Aprilia (21) |
Pendidikan | S-1 Institut Teknologi Bandung, Jurusan Fisika (1982) S-2 dan S-3 Universite Joseph Furier, Gronable, Perancis, Programe Mechanique Mileux Geophysique et Enveronment (1986-1992) |
Pekerjaan | - Bekerja di lingkungan PVMBG (dulu Direktorat Vulkanologi), Departemen ESDM sejak 1982 - Kepala Subdirektorat Mitigasi, Bencana Geologi (2003) - Kepala PVMBG (2006-sekarang) |
Sumber : Kompas Cetak
Sabtu, 30 Oktober 2010
Jumat, 29 Oktober 2010
NASA Menemukan Tempat Tinggal Alien
Makhluk Alien yang dikenal melalui film tergambar sosok yang mengerikan bentuknya walau mirip manusia tapi banyak keunikan. Ternyata makhluk tersebut menurut NASA benar benar ada bahkan terdapat sekitar 400 planet sebagai tempat tinggalnya.
Penemuan ini secara tak sengaja ketika pesawat luar angkasa Kepler, NASA mencari planet mirip bumi tapi malah menemukan sekitar 400 bintang yang diduga sebagai tempat tinggal Alien diantara 156 ribu bintang.
Penemuan ini diumumkan oleh NASA sebagai hasil bagian penelusuran ruang angkasa selama 43 hari oleh tim peneliti Kepler.
Pesawat Kepler memonitor bintang untuk melihat terjadinya perubahan cahaya dan mengindikasikan keberadaan planet milik Alien yang melewati bumi.
“Ini merupakan data paling berharga, terpanjang dan terbesar mengenai set fotometri bintang,” ujar David Koch, wakil penyelidik utama misi dari Ames Research Center, NASA, di Moffett Field, California, seperti dikutip Yahoo News.
David juga mensinyalir bahwa penemuan ini akan terus berkembang semakin mendekati kebenaran.

Dengan mengukur penurunan cahaya bintang saat planet melintas atau transit di depan mereka, astronom dapat mengurangi jumlah planet itu sendiri.
Berdasarkan data tersebut, astronom telah menemukan lebih dari 400 planet yang mungkin didiami oleh alien di sekitar bintang dalam sistem tata surya. Ini termasuk enam penemuan baru oleh pengamat asal Prancis yang telah diumumkan di awal minggu ini.
sumber :http://amazing.okabasi.com
Read more: wisben.com on blogger: NASA Menemukan Tempat Tinggal Alien
Hancurkan Lemak Perut yang Terdalam
Jumat, 29/10/2010 | 12:47 WIB
KOMPAS.com — Perut Anda sulit untuk jadi langsing? Hal ini karena latihan yang Anda lakukan tidak menyasar otot perut Anda yang terdalam, atau yang disebut sebagai transversus abdominis (TVA).
Tidak seperti otot-otot pusat lainnya, posisi TVA horizontal dan membungkus sekitar perut Anda seperti sebuah korset dan mampu memperbaiki postur Anda sehingga tampak lebih langsing. Tetapi, kebanyakan latihan perut tidak melibatkan TVA karena otot ini memang terkubur di bawah otot-otot tubuh depan dan samping, dan keberadaannya tidak begitu terasa. Anda baru bisa merasakannya mengejang ketika Anda bersin, misalnya.
Nah, menurut penelitian dari Auburn University, gerakan yang menstabilkan bagian tengah tubuh Anda ini (seperti plank) menjadi 34 persen lebih efektif karena menargetkan TVA daripada gerakan lama seperti crunch atau sit-up. Oleh karena itu, dalam sesi latihan yang menyasar TVA ini, Anda tidak akan menemukan gerakan sit-up sama sekali.
Bila melakukan latihan dengan target TVA ini, Anda akan menurunkan berat lemak sebanyak 0,45 kg dalam seminggu (tanpa diet). Ditambah dengan mengubah pola makan Anda, maka dalam empat hari ukuran baju Anda bisa turun 1 nomor. Lengkapi gerakan ini dengan latihan pembakaran lemak dengan interval training. Latihan kardio yang dilakukan terus-menerus dengan variasi gerakan, akan membakar lemak perut lebih cepat daripada latihan aerobik biasa.
Berikut adalah gerakan TVA yang didesain oleh Paul Frediani, master trainer di pusat kebugaran Jewish Community Center di New York City, dan penulis buku Power Sculpt for Women.
Peralatan yang dibutuhkan: Stability ball, matras, dan ikat pinggang dari kain (seperti pada kimono atau jubah mandi Anda)
3 hari dalam seminggu: Lakukan Tummy-Tuck tiga hari dalam seminggu (namun tidak berturut-turut), dimulai dengan 2 set dan 10 repetisi setiap setnya.
3 hari bergantian: Ikuti aktivitas pada Belly-Blasting Intervals dengan memilih sendiri latihan kardio yang Anda inginkan.
Bagian 1, Gerakan Tummy-Tuck. Mulailah setiap sesi latihan dengan mengunci perut atau disebut Ab Vacuum, yang akan menghangatkan TVA Anda sehingga Anda akan benar-benar mampu melakukan gerakan berikutnya.
Ab Vacuum
Lingkarkan ikat pinggang di pinggang setinggi pusar, biarkan ujung ikat pinggang menjuntai. Berlututlah selebar pinggul, dengan tangan di lantai dengan posisi di bawah pundak, punggung dalam posisi datar. Ambil napas dalam-dalam, lalu megarkan perut sehingga menekan ikat pinggang. Buang napas, tarik pusar Anda ke arah tulang belakang (sehingga ikat pinggang melonggar), tahan selama 5-10 detik. Ulangi 5 sampai 10 kali.
Core Pulse
Gerakan utamanya adalah berbaring dengan lengan di sisi tubuh Anda, kaki dijulurkan. Kunci perut, lalu angkat kepala, pundak, punggung atas, dan lengan Anda sekitar 10 cm dari lantai. Tarik napas sambil mengangkat lengan ke atas dan ke bawah setinggi 2,5 sampai 5 cm dalam hitungan 5 detik. Gerakan ini merupakan 1 ulangan.
Agar lebih mudah: Lakukan gerakan ini dengan lutut ditekuk hingga 90 derajat. Lebih sulit bila: Rendahkan kedua kaki, lalu kunci perut Anda. Semakin dekat kaki Anda ke lantai (tanpa melengkungkan punggung), semakin menantang gerakannya.
Elevated Plank
Letakkan lengan bawah ke stability ball dengan kedua tangan mengatup, lalu julurkan kaki lurus ke belakang, bertumpu pada jari-jari kaki. Buang napas, tarik perut ke arah tulang punggung, tahan selama 30-60 detik. Punggung dan tubuh tetap dalam garis lurus. Beristirahatlah selama 30 detik, lalu ulangi gerakan tadi. Lakukan 3 kali.
Agar lebih mudah: Lakukan gerakan plank tanpa stability ball. Lebih sulit bila: Dengan gerakan plank di atas bola, tarik kaki Anda ke arah dada sebanyak 10 kali untuk setiap kaki.
Double Reach
Berbaring sambil memeluk lutut ke arah dada, kepala dan pundak diangkat. Buang napas, tarik perut Anda, lalu julurkan kaki ke atas dalam sudut 45 derajat sambil menggerakkan lengan ke belakang kepala. Tarik nafas, lalu tarik lutut dan lengan kembali ke posisi semula.
Agar lebih mudah: Biarkan lutut tetap menekuk saat Anda menjulurkan kaki ke depan. Lebih sulit bila: Rendahkan posisi kaki hingga berjarak 5-7,5 cm dari lantai.
Core Lunge
Berdiri dengan salah satu kaki menjulur ke belakang, kaki kiri sekitar 90 cm di depan kaki kanan. Pegang stability ball setinggi dada, lengan dijulurkan. Tarik napas, kunci perut Anda, lalu dengan perlahan merendah dengan kedua lutut ditekuk sekitar 90 derajat. Jaga agar lutut depan lebih maju dari jari kaki. Buang napas, lalu perlahan berdiri lagi dan angkat bola ke atas kepala dengan lengan lurus ke atas. Ulangi dengan merendahkan bola saat Anda dalam posisi lunge (merendah).
Agar lebih mudah: Lakukan gerakan ini tanpa membawa bola. Lebih sulit bila: Dari posisi lunge dimana lutut menekuk, berputarlah ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang, lalu kembali ke depan dalam 1 ulangan.
Toe Dip
Berbaring dengan kaki di atas pinggul, lutut menekuk 90 derajat. Buang nafas, tarik perut Anda, lalu perlahan turunkan satu kaki hampir menyentuh lantai, gunakan perut untuk menahan agar punggung tidak melengkung. Kembali ke posisi semula, lalu ganti dengan kaki yang lain.
Agar lebih mudah: Letakkan satu kaki ke lantai, lalu angkat dan rendahkan satu kaki bergantian. Lebih sulit bila: Rapatkan kedua kaki, lalu rendahkan kedua kaki secara simultan.
Ball Balance
Berbaringlah di atas bola (posisi bola di bawah perut), tangan dan kaki menempel di lantai. Buang napas dan tarik perut untuk menstabilkan keseimbangan Anda, lalu angkat lengan kanan ke depan dan kaki kiri terjulur ke belakang. Bernapas secara normal, dan tahan selama 10 detik. Gunakan otot-otot perut dan punggung untuk menjaga agar bola tidak bergoyang-goyang dan tubuh tetap dalam posisi lurus, lalu turunkan tangan dan kaki. Ulangi dengan kaki dan tangan yang lain, lakukan 5 kali untuk setiap sisi.
Agar lebih mudah: Angka lengan hanya dalam 5 repetisi, lalu ulangi dengan kaki yang lain. Ganti dengan kaki dan kaki yang lain, dan ulangi gerakannya. Lebih sulit bila: Tahan posisi tangan dan kaki yang terangkat, lalu buat gerakan membentuk huruf-huruf dengan tangan. Ulangi dengan tangan dan kaki yang lain.
Gerakan 2, Belly-Blasting Intervals
Perempuan yang melakukan interval training (latihan kardio dengan gerakan yang berbeda-beda) selama 20 menit saja, akan kehilangan 1,3 kg lemak perutnya dalam 15 minggu. Latihan ini bisa dilakukan tanpa alat, dan bisa dilakukan di mana saja. Anda juga bisa berganti-ganti latihan kardio sesuai selera Anda, misalnya jalan kaki, jogging, berenang, aerobik, atau bersepeda. Aktivitas apapun yang Anda pilih, fokuslah pada tahap menarik otot perut ke dalam (atau ke arah tulang punggung) untuk menyasar lemak perut Anda.
Sumber: Prevention
Tidak seperti otot-otot pusat lainnya, posisi TVA horizontal dan membungkus sekitar perut Anda seperti sebuah korset dan mampu memperbaiki postur Anda sehingga tampak lebih langsing. Tetapi, kebanyakan latihan perut tidak melibatkan TVA karena otot ini memang terkubur di bawah otot-otot tubuh depan dan samping, dan keberadaannya tidak begitu terasa. Anda baru bisa merasakannya mengejang ketika Anda bersin, misalnya.
Nah, menurut penelitian dari Auburn University, gerakan yang menstabilkan bagian tengah tubuh Anda ini (seperti plank) menjadi 34 persen lebih efektif karena menargetkan TVA daripada gerakan lama seperti crunch atau sit-up. Oleh karena itu, dalam sesi latihan yang menyasar TVA ini, Anda tidak akan menemukan gerakan sit-up sama sekali.
Bila melakukan latihan dengan target TVA ini, Anda akan menurunkan berat lemak sebanyak 0,45 kg dalam seminggu (tanpa diet). Ditambah dengan mengubah pola makan Anda, maka dalam empat hari ukuran baju Anda bisa turun 1 nomor. Lengkapi gerakan ini dengan latihan pembakaran lemak dengan interval training. Latihan kardio yang dilakukan terus-menerus dengan variasi gerakan, akan membakar lemak perut lebih cepat daripada latihan aerobik biasa.
Berikut adalah gerakan TVA yang didesain oleh Paul Frediani, master trainer di pusat kebugaran Jewish Community Center di New York City, dan penulis buku Power Sculpt for Women.
Peralatan yang dibutuhkan: Stability ball, matras, dan ikat pinggang dari kain (seperti pada kimono atau jubah mandi Anda)
3 hari dalam seminggu: Lakukan Tummy-Tuck tiga hari dalam seminggu (namun tidak berturut-turut), dimulai dengan 2 set dan 10 repetisi setiap setnya.
3 hari bergantian: Ikuti aktivitas pada Belly-Blasting Intervals dengan memilih sendiri latihan kardio yang Anda inginkan.
Bagian 1, Gerakan Tummy-Tuck. Mulailah setiap sesi latihan dengan mengunci perut atau disebut Ab Vacuum, yang akan menghangatkan TVA Anda sehingga Anda akan benar-benar mampu melakukan gerakan berikutnya.
Ab Vacuum
Lingkarkan ikat pinggang di pinggang setinggi pusar, biarkan ujung ikat pinggang menjuntai. Berlututlah selebar pinggul, dengan tangan di lantai dengan posisi di bawah pundak, punggung dalam posisi datar. Ambil napas dalam-dalam, lalu megarkan perut sehingga menekan ikat pinggang. Buang napas, tarik pusar Anda ke arah tulang belakang (sehingga ikat pinggang melonggar), tahan selama 5-10 detik. Ulangi 5 sampai 10 kali.
Core Pulse
Gerakan utamanya adalah berbaring dengan lengan di sisi tubuh Anda, kaki dijulurkan. Kunci perut, lalu angkat kepala, pundak, punggung atas, dan lengan Anda sekitar 10 cm dari lantai. Tarik napas sambil mengangkat lengan ke atas dan ke bawah setinggi 2,5 sampai 5 cm dalam hitungan 5 detik. Gerakan ini merupakan 1 ulangan.
Agar lebih mudah: Lakukan gerakan ini dengan lutut ditekuk hingga 90 derajat. Lebih sulit bila: Rendahkan kedua kaki, lalu kunci perut Anda. Semakin dekat kaki Anda ke lantai (tanpa melengkungkan punggung), semakin menantang gerakannya.
Elevated Plank
Letakkan lengan bawah ke stability ball dengan kedua tangan mengatup, lalu julurkan kaki lurus ke belakang, bertumpu pada jari-jari kaki. Buang napas, tarik perut ke arah tulang punggung, tahan selama 30-60 detik. Punggung dan tubuh tetap dalam garis lurus. Beristirahatlah selama 30 detik, lalu ulangi gerakan tadi. Lakukan 3 kali.
Agar lebih mudah: Lakukan gerakan plank tanpa stability ball. Lebih sulit bila: Dengan gerakan plank di atas bola, tarik kaki Anda ke arah dada sebanyak 10 kali untuk setiap kaki.
Double Reach
Berbaring sambil memeluk lutut ke arah dada, kepala dan pundak diangkat. Buang napas, tarik perut Anda, lalu julurkan kaki ke atas dalam sudut 45 derajat sambil menggerakkan lengan ke belakang kepala. Tarik nafas, lalu tarik lutut dan lengan kembali ke posisi semula.
Agar lebih mudah: Biarkan lutut tetap menekuk saat Anda menjulurkan kaki ke depan. Lebih sulit bila: Rendahkan posisi kaki hingga berjarak 5-7,5 cm dari lantai.
Core Lunge
Berdiri dengan salah satu kaki menjulur ke belakang, kaki kiri sekitar 90 cm di depan kaki kanan. Pegang stability ball setinggi dada, lengan dijulurkan. Tarik napas, kunci perut Anda, lalu dengan perlahan merendah dengan kedua lutut ditekuk sekitar 90 derajat. Jaga agar lutut depan lebih maju dari jari kaki. Buang napas, lalu perlahan berdiri lagi dan angkat bola ke atas kepala dengan lengan lurus ke atas. Ulangi dengan merendahkan bola saat Anda dalam posisi lunge (merendah).
Agar lebih mudah: Lakukan gerakan ini tanpa membawa bola. Lebih sulit bila: Dari posisi lunge dimana lutut menekuk, berputarlah ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang, lalu kembali ke depan dalam 1 ulangan.
Toe Dip
Berbaring dengan kaki di atas pinggul, lutut menekuk 90 derajat. Buang nafas, tarik perut Anda, lalu perlahan turunkan satu kaki hampir menyentuh lantai, gunakan perut untuk menahan agar punggung tidak melengkung. Kembali ke posisi semula, lalu ganti dengan kaki yang lain.
Agar lebih mudah: Letakkan satu kaki ke lantai, lalu angkat dan rendahkan satu kaki bergantian. Lebih sulit bila: Rapatkan kedua kaki, lalu rendahkan kedua kaki secara simultan.
Ball Balance
Berbaringlah di atas bola (posisi bola di bawah perut), tangan dan kaki menempel di lantai. Buang napas dan tarik perut untuk menstabilkan keseimbangan Anda, lalu angkat lengan kanan ke depan dan kaki kiri terjulur ke belakang. Bernapas secara normal, dan tahan selama 10 detik. Gunakan otot-otot perut dan punggung untuk menjaga agar bola tidak bergoyang-goyang dan tubuh tetap dalam posisi lurus, lalu turunkan tangan dan kaki. Ulangi dengan kaki dan tangan yang lain, lakukan 5 kali untuk setiap sisi.
Agar lebih mudah: Angka lengan hanya dalam 5 repetisi, lalu ulangi dengan kaki yang lain. Ganti dengan kaki dan kaki yang lain, dan ulangi gerakannya. Lebih sulit bila: Tahan posisi tangan dan kaki yang terangkat, lalu buat gerakan membentuk huruf-huruf dengan tangan. Ulangi dengan tangan dan kaki yang lain.
Gerakan 2, Belly-Blasting Intervals
Perempuan yang melakukan interval training (latihan kardio dengan gerakan yang berbeda-beda) selama 20 menit saja, akan kehilangan 1,3 kg lemak perutnya dalam 15 minggu. Latihan ini bisa dilakukan tanpa alat, dan bisa dilakukan di mana saja. Anda juga bisa berganti-ganti latihan kardio sesuai selera Anda, misalnya jalan kaki, jogging, berenang, aerobik, atau bersepeda. Aktivitas apapun yang Anda pilih, fokuslah pada tahap menarik otot perut ke dalam (atau ke arah tulang punggung) untuk menyasar lemak perut Anda.
Sumber: Prevention
Rabu, 27 Oktober 2010
Foto Jenazah Mbah Maridjan
Foto Jenazah Mbah Maridjan
sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5728958
Bisnis Perlengkapan Bayi Pakaian Mini, Keuntungan Maksi
Bisnis Perlengkapan Bayi Pakaian Mini, Keuntungan Maksi
Selasa, 02/03/2010 09:00 WIB - Rachmadhani Fitriastuti
Sekalipun Solo belum bisa disejajarkan dengan kota-kota besar lainnya, namun jika dilihat dari sisi bisnis tidaklah kalah. Solo bisa disebut sebagai salah satu pusat bisnis di Indonesia, khususnya di bidang garmen. Keberadaan Pasar Klewer dan Pusat Grosir Solo (PGS) menunjukkan betapa dinamisnya bisnis garmen di Solo ini.
Bisa dikatakan batik menjadi bisnis garmen yang paling menonjol. Namun di luar itu bertumbuhan bisnis garmen lainnya, bisnis perlengkapan bayi juga makin menggairahkan. Meskipun yang diproduksi adalah benda-benda berukuran mini namun dapat menghasilkan keuntungan yang maksi.
Salah satu pengusaha yang sudah menggeluti bisnis ini adalah Retno Setyawati (56). Pemilik toko Sumber Jaya ini sudah mulai menjalankan usaha perlengkapan bayi sejak tahun 2000 silam. Retno mengaku berbagai kemudahan dan keuntungan dari bisnis ini membuat ia tertarik untuk menggelutinya.
“Saya sudah berjualan sejak tahun 1972, tapi untuk pakaian-pakaian dewasa. Mulai tahun 2000, setelah persaingan semakin ketat saya baru mulai fokus untuk berjualan perlengkapan bayi dan ternyata hasilnya lebih menguntungkan,” tutur Retno saat ditemui Joglosemar, Senin (1/3).
Menurut Retno, keuntungan berbisnis perlengkapan bayi adalah barang-barang yang mereka jual merupakan kebutuhan utama para bayi yang harus dipenuhi. Jika orang dewasa masih bisa menunda keinginannya untuk membeli baju baru, maka tidak demikian halnya dengan para bayi.
Apalagi jika sang bayi adalah anak pertama, di mana sebelumnya sang orang tua belum memiliki perlengkap bayi sama sekali. “Mungkin kalau orang dewasa kepingin beli baju baru masih bisa ditahan atau ditunda dulu apalagi kalau masih ada baju yang lama. Tapi kalau untuk bayi mau tidak mau harus beli, apalagi mereka juga masih tumbuh terus dan ukuran baju selalu berubah,” papar wanita yang membuka tokonya di Jalan Rajiman 23 Solo ini.
Tidak hanya itu, banyaknya perlengkapan yang dibutuhkan seorang bayi, mau tidak mau membuat sang orang tua mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memenuhinya. Sehingga sekalipun mereka terhitung sebagai konsumen biasa, tetapi jika dilihat dari nominal uang belanja sudah selayaknya orang yang sedang kulakan.
Jumlah Besar
Dijelaskan Retno, untuk sekali pembelian seseorang bisa menghabiskan dana hingga ratusan ribu rupiah. Biasanya mereka membeli lengkap mulai dari popok, gurita, baju dan celana bayi, bedong, kaos kaki dan kaos tangan, perlak hingga bantal. Mereka pun langsung membelinya dalam jumlah banyak khususnya untuk perlengkapan pakaiannya.
“Itulah enaknya ada satu pembeli saja belinya langsung banyak, ya seperti pedagang lagi kulakan lah. Beda kan sama baju dewasa yang dibelinya paling satu dua saja,” ujar Retno disela-sela kesibukannya melayani pembeli.
Pendapat senada juga disampaikan Andiarta Wijaya (19) yang baru selama empat tahun terakhir membuka toko perlengkapan bayi di Pusat Grosir Solo (PGS). Dikatakannya, rata-rata pembeli bisa menghabiskan antara Rp 250.000 sampai Rp 500.000 untuk membeli perlengkapan bayi.
“Sekalipun mereka bukan pedagang, tapi rata-rata ambil banyak sekalian. Selain karena faktor kebutuhan juga karena harga grosir lebih murah, selisihnya antara Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Soalnya buat pembeli Solo, harga memang menjadi hal yang utama,” terang pemilik toko Aneka Busana ini. (Rachmadhani Fitriastuti)
Bisa dikatakan batik menjadi bisnis garmen yang paling menonjol. Namun di luar itu bertumbuhan bisnis garmen lainnya, bisnis perlengkapan bayi juga makin menggairahkan. Meskipun yang diproduksi adalah benda-benda berukuran mini namun dapat menghasilkan keuntungan yang maksi.
Salah satu pengusaha yang sudah menggeluti bisnis ini adalah Retno Setyawati (56). Pemilik toko Sumber Jaya ini sudah mulai menjalankan usaha perlengkapan bayi sejak tahun 2000 silam. Retno mengaku berbagai kemudahan dan keuntungan dari bisnis ini membuat ia tertarik untuk menggelutinya.
“Saya sudah berjualan sejak tahun 1972, tapi untuk pakaian-pakaian dewasa. Mulai tahun 2000, setelah persaingan semakin ketat saya baru mulai fokus untuk berjualan perlengkapan bayi dan ternyata hasilnya lebih menguntungkan,” tutur Retno saat ditemui Joglosemar, Senin (1/3).
Menurut Retno, keuntungan berbisnis perlengkapan bayi adalah barang-barang yang mereka jual merupakan kebutuhan utama para bayi yang harus dipenuhi. Jika orang dewasa masih bisa menunda keinginannya untuk membeli baju baru, maka tidak demikian halnya dengan para bayi.
Apalagi jika sang bayi adalah anak pertama, di mana sebelumnya sang orang tua belum memiliki perlengkap bayi sama sekali. “Mungkin kalau orang dewasa kepingin beli baju baru masih bisa ditahan atau ditunda dulu apalagi kalau masih ada baju yang lama. Tapi kalau untuk bayi mau tidak mau harus beli, apalagi mereka juga masih tumbuh terus dan ukuran baju selalu berubah,” papar wanita yang membuka tokonya di Jalan Rajiman 23 Solo ini.
Tidak hanya itu, banyaknya perlengkapan yang dibutuhkan seorang bayi, mau tidak mau membuat sang orang tua mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk memenuhinya. Sehingga sekalipun mereka terhitung sebagai konsumen biasa, tetapi jika dilihat dari nominal uang belanja sudah selayaknya orang yang sedang kulakan.
Jumlah Besar
Dijelaskan Retno, untuk sekali pembelian seseorang bisa menghabiskan dana hingga ratusan ribu rupiah. Biasanya mereka membeli lengkap mulai dari popok, gurita, baju dan celana bayi, bedong, kaos kaki dan kaos tangan, perlak hingga bantal. Mereka pun langsung membelinya dalam jumlah banyak khususnya untuk perlengkapan pakaiannya.
“Itulah enaknya ada satu pembeli saja belinya langsung banyak, ya seperti pedagang lagi kulakan lah. Beda kan sama baju dewasa yang dibelinya paling satu dua saja,” ujar Retno disela-sela kesibukannya melayani pembeli.
Pendapat senada juga disampaikan Andiarta Wijaya (19) yang baru selama empat tahun terakhir membuka toko perlengkapan bayi di Pusat Grosir Solo (PGS). Dikatakannya, rata-rata pembeli bisa menghabiskan antara Rp 250.000 sampai Rp 500.000 untuk membeli perlengkapan bayi.
“Sekalipun mereka bukan pedagang, tapi rata-rata ambil banyak sekalian. Selain karena faktor kebutuhan juga karena harga grosir lebih murah, selisihnya antara Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Soalnya buat pembeli Solo, harga memang menjadi hal yang utama,” terang pemilik toko Aneka Busana ini. (Rachmadhani Fitriastuti)
Langganan:
Postingan (Atom)